Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 6

Chapter 6


"KENAPA sih tidak naik mobil saja?" Mindy mengomel sementara kami menyusuri jalan menanjak Summit Avenue, menuju Lawn Lovely. "Udaranya terlalu panas untuk jalan kaki."


"Oh,. jangan mengeluh terus, Mindy. Jaraknya kan cuma dua blok. Sekalian berolahraga," jawab Dad sambil berjalan dengan langkah panjang.
Mindy benar. Udaranya memang panas. Tapi kenapa ia mesti berkeluh-kesah segala?

Jarak dua blok kan tidak ada apa-apanya.

"Dibandingkan dirimu, aku lebih kepanasan lagi," aku menggodanya. Kemudian aku membungkuk ke arah Mindy dan menggeleng-gelengkan kepalaku yang basah karena keringat. "Betul, kan?"

Beberapa butir keringat mengenai T-shirt Mind. "Ih, dasar jorok!" ia memekik sambil melompat mundur. "Dad! Suruh ia berhenti menggangguku."

"Kita sudah hampir sampai," sahut Dad. Suaranya seakan berasal dari tempat yang jauh sekali. Sepertinya ia sudah asyik berkhayal mengenai hiasan taman yang akan dibelinya.

Di ujung blok aku melihat atap Lawn Lovely yang tinggi dan runcing. Atap itu menjulang ke langit jauh lebih tinggi daripada atap rumah-rumah di sekitarnya.

Aneh benar toko itu, ujarku dalam hati. Lawn Lovely merupakan rumah tua berlantai tiga yang menjorok ke dalam dari jalanan. Seluruh bangunannya dicat pink. Pink menyala.

Jendela-jendelanya diberi penutup yang dicat warna-warni. Tapi warnanya tidak cocok satu sama lainnya. Rasanya ini satu alasan lagi kenapa Mindy tidak menyukainya.

Kondisi rumah tua itu juga tidak begitu baik. Papan-papan kayu di lantai beranda depan sudah melengkung semua. Dan di situ juga ada lubang.

Musim panas lalu Mr. McCall kejeblos di situ. Ketika kami melewati tiang bendera di pekarangan depan, kulihat Mrs. Anderson berdiri di depan garasi. Ia pemilik Lawn Lovely yang tinggal di lantai dua dan tiga rumah itu.

Mrs. Anderson sedang berlutut di depan sekawanan flamingo plastik berwarna pink. Ia melepaskan bungkus plastik setiap burung, lalu mengaturnya dalam deretan menyilang di pekarangan.

Mrs. Anderson mengingatkanku pada seekor flamingo. Tubuhnya sangat kurus dan pakaiannya selalu serba pink. Warna rambutnya pun mendekati pink. Mirip kembang gula.

Lawn Lovely tidak menjual apa pun selain hiasan taman. Tupai dari gips. Patung-patung malaikat yang sedang berciuman. Kelinci pink dengan kumis dari kawat. Cacing panjang hijau dengan topi hitam kecil. Sekawanan bebek putih. Dan ratusan hiasan taman lainnya yang tersebar memenuhi pekarangan, tangga beranda, dan lantai dasar rumah.

Dengan hati-hati Mrs. Anderson membuka bungkus plastik seekor flamingo, lalu ditaruhnya bersebelahan dengan seekor rusa. Ia mengamati sunannya, lalu menggeser rusa dua senti ke kiri.

"Halo, Lilah," Dad menyapanya.

Mrs. Anderson tidak menyahut. Pendengarannya memang kurang baik.

"Halo, Lilah!" Dad mengulangi. Kali ini ayahku melingkarkan tangan ke sekeliling mulut agar suaranya lebih keras.

Mrs. Anderson menoleh. Begitu melihat Dad, wajahnya langsung berseri-seri. "Jeffrey!" serunya. "Apa kabar?"

Mrs. Anderson selalu ramah pada Dad. Kata Mom, Dad langganannya yang paling setia.

Barangkali juga satu-satunya langganannya!

"Baik, terima kasih," sahut Dad. Ia memandang berkeliling sambil menggosok-gosok tangan penuh semangat.

Mrs. Anderson memasang flamingo yang terakhir, kemudian menghampiri kami.

Tangannya yang kotor diusapkan ke T-shirt pinknya.

"Ingin sesuatu yang khusus hari ini?" tanyanya.

"Rusa kami kesepian" Dad terpaksa berteriak, supaya Mrs. Anderson bisa mendengar.

"Dia butuh teman."

"Ya ampun, Dad. Kita tidak butuh hiasan taman lagi," gerutu Mindy. "Mom pasti marah nanti."

Mrs. Anderson tersenyum. "Oh, pekarangan bergaya Lawn Lovely selalu punya tempat untuk satu hiasan lagi. Betul kan, Jeffrey?"

"Betul!!" Dad menegaskan.

Mindy cemberut. Untuk keseratus kalinya hari itu ia memutar-mutar bola mata.

Dad menghampiri sekawanan rusa gips bermata lebar yang berkumpul di pojok pekarangan. Mindy dan aku mengikutinya.

Tinggi rusa-rusa itu sekitar satu setengah meter. Tubuh mereka yang cokelat kemerahan penuh bintik-bintik putih. Sangat mirip dengan hewan aslinya. Dan juga sangat membosankan.

Sejenak Dad mengamati rusa-rusa itu. Kemudian perhatiannya beralih ke tempat lain.

Sepasang kurcaci gendut berdiri di tengah pekarangan.

"Wah, wah, apa ini?" gumam Dad sambil tersenyum. Matanya berbinar-binar. Ia membungkuk untuk mengamati kurcaci-kurcaci itu dari dekat.

Mrs. Anderson langsung bertepuk tangan. "Jeffrey, matamu memang jeli. Kau pintar menilai hiasan taman!" serunya. "Aku sudah tahu kau pasti menyukai kurcaci-kurcaci ini!

Mereka buatan Eropa, lho. Pahatannya halus sekali."

Aku menatap kedua kurcaci ini. Mereka mirip orang tua berbadan kerdil. Tingginya tidak sampai satu meter, tapi perutnya buncit. Mata mereka merah dan telinga mereka lebar.

Mulut mereka melengkung sehingga kelihatan seperti tersenyum lebar. Kepala mereka ditutup rambut cokelat kasar.

Keduanya memakai baju lengan pendek hijau cerah, celana cokelat, dan topi tinggi runcing warna jingga. Ditambah ikat pinggang hitam yang melingkari pinggang mereka yang lebar.

"Wah, bagusnya!" puji Dad. "Lihatlah anak-anak. Mereka bagus sekali, bukan?"

"Lumayan," sahutku.

"Lumayan?" seru Mind- "Mereka mengerikan! Jelek sekali! Tampangnya... jahat. Aku benci mereka!"

"Hei, kau benar, Mindy," ujarku. "Mereka memang jelek. Persis sepertimu."

"Joe, kau memang..." Mindy mulai berkata. Tapi Dad segera menyela, "Kita ambil dua-duanya!"

"Dad-jangan!" Mindy meraung. "Mereka jelek sekali. Beli rusa saja, deh. Atau flamingo.

Asal jangan kurcaci-kurcaci jelek ini. Coba lihat senyum mereka yang jahat. Mereka terlalu seram!"

"Oh, jangan mengada-ada, Mindy. Mereka serasi sekali untuk pekarangan kita," kata Dad. "Mereka bisa dijadikan hantu saat Halloween. Dan pada Hari Natal mereka akan kupakaikan kostum Sinterklas Pasti mereka mirip peri-peri Sinterklas."

Dad mengeluarkan kartu kreditnya, lalu bersama Mrs. Anderson masuk ke toko untuk mengurus pembayaran. "Tunggu sebentar," seru Dad pada kami.

"Ini hiasan taman paling jelek yang dibeli Dad," Mindy mengomel. "Benar-benar memalukan. Mulai sekarang aku tidak mau mengajak teman-temanku ke rumah."

Kemudian ia menuju ke trotoar sambil mengentak-entakkan kaki karena kesal.

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari kedua kurcaci itu. Mereka memang jelek.

Meski tersenyum, senyum mereka berkesan tidak ramah. Mata mereka yang berwarna merah menyorot dingin.

"Hei! Mindy! Lihat, nih! Kurcacinya bisa bergerak!"

Mindy berpaling ke arahku.

Mendadak sepasang tangan yang kekar mencengkeram pergelanganku. Aku menggeliat-geliat berusaha membebaskan diri

"Lepaskan!" aku memekik. "Lepaskan aku! Mindy-tolong!"

"Tu-tunggu!" sahut Mindy bergegas menghampiriku.



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online