Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 7

Chapter 7


DENGAN cepat Mindy melintasi pekarangan Ia melompati kawanan flamingo dan berlari mengelilingi gerombolan rusa.


"Cepat!" aku mengerang. "Aku ditangkapnya!"

Tapi, ketika melihat Mindy mendekat dengan wajah pucat karena cemas, aku tidak tahan lagi. Serta-merta aku tertawa terbahak-bahak.

"Ketipu! Ketipu!" aku memekik-mekik. Sambil menari-nari kujauhi sepasang kurcaci itu.

Mindy langsung melayangkan pukulan. Tapi meleset.

"Jadi kau percaya aku ditangkap kurcaci?" tanyaku geleng-geleng kepala. "Wah, kau ternyata lebih bodoh dari yang kuduga selama ini!"

Mindy tidak sempat menyahut karena Dad sudah menuruni tangga beranda yang juga dicat pink.

"Nah, sekarang kita bawa pulang mereka," katanya sambil nyengir lebar.

Dia berdiri di depan kedua kurcaci itu, menatap mereka dengan sinar mata bahagia. "Tapi kita harus cari nama dulu untuk mereka." Semua hiasan taman Dad punya nama.

Mindy mengeluh keras. Dad tidak menghiraukannya

Kepala salah satu kurcaci ditepuk-tepuknya.

"Yang ini kita panggil Hap saja. Soalnya ia kelihatan begitu happy! Biar aku yang bawa Hap. Kalian bawa..."

Dad terdiam, dengan mata terpicing menatap kurcaci yang satu lagi. Gigi depan kurcaci itu chipped-pecah-sedikit. "Chip. Yap, yang ini kita beri nama Chip."

Dad mengangkat Hap. "Wah, ternyata berat juga!" Sambil terhuyung-huyung ia menuju ke trotoar.

Mindy menatap Chip. "Kau pegang kakinya," katanya padaku. "Aku kepalanya. Ayo.

Satu, dua, tiga... angkat!"

Aku membungkuk dan mengangkat kaki kurcaci itu.

"Oh!" Tanganku tergores sepatu bot merahnya.

"Jangan mengeluh terus," Mindy menegurku. "Kau masih beruntung. Coba lihat aku.

Ujung topi yang konyol ini menyenggol hidungku."

Dengan susah-payah kami menuruni bukit, mengikuti Dad.

Mindy dan aku berjalan pelan-pelan. "Aduh, jadi tontonan gratis, deh," Mindy menggerutu lagi.

Memang benar. Dua anak cewek yang sedang bersepeda mendaki bukit, berhenti dan menatap kami Lalu mereka meledak tertawa.

Wajah Mindy yang pucat jadi semerah tomat-tomat milik Dad. "Malunya takkan habis sampai tua. Ayo, Joe. Cepat sedikit, dong."

Aku menggoyang-goyang kaki Chip supaya pegangan Mindy terlepas. Mindy langsung marah-marah. "Jangan macam-macam, Joe," hardiknya. "Angkat kakinya lebih tinggi."

Ketika hampir tiba di rumah, Mr. McCall melihat kami menyusuri trotoar. Ia berhenti memangkas semak-semak untuk mengamati iring-iringan.

"Beli hiasan taman lagi, Jeffrey?" serunya pada Dad. Aku mendengarnya tertawa pelan.

Mr. McCall selalu galak terhadap Mindy dan aku. Tapi dengan Dad ia cukup ramah.

Meski mereka selalu saling mengejek soal kebun masing-masing. Mrs. McCall menyembulkan kepala dari pintu depan. "Wah, lucu sekali!" ujarnya. Ia mengamati kami sambil tersenyum, lalu berpaling pada suaminya, "Adikmu menelepon, Bill."

Mr. McCall meletakkan gunting tanaman dan masuk ke rumahnya.

Kami menggotong. Chip melewati jalan mobil keluarga McCall dan menyusul Dad yang sudah tiba di pekarangan kami.

"Sebelah sini!" Dad memberi instruksi sambil menaruh Hap di pojok. Di sebelah Deer-lilah, rusa kami yang dinamai seperti nama Lilah-pemilik Lawn Lovely!.

Dengan sisa-sisa tenaga, Mindy dan aku menggotong Chip ke tempat Dad menunggu.

Kurcaci itu beratnya minta ampun. Jauh lebih berat dari hiasan-hiasan taman yang lain.

Mindy dan aku menurunkannya ke rumput, lalu kami ambruk di sampingnya.

Sambil bersiul-siul riang, Dad menaruh Chip di sebelah kiri rusa. Dan Hap di sebelah kanannya.

Kemudian ia mundur sedikit untuk mengamati penempatan itu dari jauh. "Mereka kelihatan gembira sekali!" katanya. "Ayo, kita kasih tahu Mom. Ia pasti senang melihat kurcaci-kurcaci yang lucu ini!"

Dad bergegas melintasi pekarangan dan masuk ke rumah.

"Hei!" Moose memanggil dan segera berlari menghampiri kami. "Kalian beli hiasan taman lagi, ya?"

Ia menghampiri kedua kurcaci dan mengerutkan kening. "Wow, jelek sekali," serunya keras.

Moose membungkuk dan menjulurkan lidah kepada Hap. "Mau berkelahi, heh, Cebol?" ia bertanya kepada patung kecil itu. "Nih! Makan, nih!" Ia berlagak memukul dada Hap..

"Sikat saja!" seruku.

Moose merangkul kurcaci itu dan memukul perutnya.

Aku berdiri. "Awas! Habis ini kau takkan bisa cengar-cengir lagi!" aku menghardik Chip.

Kutaruh kedua tanganku di leher si kurcaci dan pura-pura mencekiknya.

"Sekarang giliran aku!" Moose mengangkat kakinya yang berotot dan melayangkan tendangan karate ke topi Hap. Patung gendut itu sempat oleng.

"Awas! Jangan macam:macam!" Mindy mewanti-wanti. "Nanti pecah, lho!"

"Oke" kataku. "Kalau begitu mereka kita gelitik saja!"

"Gelitik, gelitik!" Moose berseru sambil menggelitik ketiak Hap.

"Dasar kampungan," Mindy berkomentar. "Moose, kau benar-benar..."

Moose dan aku menunggu ejekan apa yang hendak dipakai Mindy kali ini. Tapi Mindy malah menunjuk ke pekarangan Mr. McCall dan menjerit,

"Ya, ampun! Buster!"

Moose dan aku langsung berbalik dan melihat Buster kembali sedang mengais-ngais tanaman Mr. McCall.

"Buster! Jangan!" teriakku.

Cepat-cepat kuraih peluit anjing yang tergantung di leherku lalu kutempelkan ke mulut.

Tapi sebelum aku sempat meniup, Mr. McCall sudah keluar dari rumahnya!

"Lagi-lagi anjing brengsek itu!" serunya sambil mengepal-ngepalkan tangan. "Ayo, pergi! Hus!"

Buster merintih, berbalik, dan kembali ke pekarangan kami. Kepalanya merunduk, ekornya terlipat di antara kedua kaki belakangnya.

Oh-oh, pikirku sambil mengamati wajah Mr. McCall yang merah karena marah. Kali ini kami tidak bisa berkelit lagi.

Tapi sebelum Mr. McCall mendamprat kami Dad membuka pintu depan. "Anak-anak, kata Mom makan malam sudah hampir siap."

"Jeffrey!" Mr. McCall berseru. "Kau sengaja menyuruh anjingmu kemari untuk menginjak-injak melonku ?"

Dad nyengir lebar. "Bukan salah Buster!" sahutnya. "Ia mengira melonmu itu bola golf!"

"Yang kautanam itu tomat atau arbei?" balas ayah Moose.

"Kau tidak lihat tomat yang kubawa masuk kemarin?" jawab Dad tak mau kalah. "Aku terpaksa pakai gerobak untuk mengangkutnya!"

Buster melompat-lompat di pekarangan. Seakan tahu dirinya baru saja selamat dari masalah besar.

Kami menuju ke rumah. Tapi mendadak terdengar bunyi berdebam.

Aku segera membalik dan melihat Hap tergeletak di rumput. Buster sedang menjilat-jilat wajahnya.

"Anjing nakal," Dad memarahinya. Kurasa Dad sebenarnya juga kurang senang pada Buster, sama seperti Mr. McCall. "Kau menjatuhkan kurcaci itu, ya? Ayo, jangan dekat-dekat!"

"Buster, kemari!" aku memanggilnya. Tapi Buster tidak menggubris, malah makin asyik menjilat-jilat wajah Hap.

Kutempelkan peluit anjing ke bibir dan meniupnya satu kali. Buster mengangkat kepala dan menegakkan telinga. Ia langsung melupakan kurcaci itu dan berjalan menghampiriku.

"Joe, coba angkat Hap, ya?" Dad berkata dengan jengkel.

Mindy memegang Buster. Aku meraih pundak kurcaci itu dan mendirikannya lagi.

Kemudian kuperiksa apakah ada yang rusak. Kaki. Tangan. Leher. Semua masih utuh.

Pandanganku beralih ke wajah Hap. Dan seketika aku tersentak.

Aku berkedip-kedip, lalu kembali menatap kurcaci itu.

"Ba-bagaimana mungkin?" gumamku tergagap-gagap.



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen judi online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online