Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 5

Chapter 5


"ADA apa, Dad?" seruku. "Ada apa?"


Dad menjawab dengan suara parau. "Aku menemukan... lalat buah di tomat kita! Di tomat kita yang paling besar. Si Ratu Merah!"

Dad mengusap keningnya yang basah karena keringat. "Bagaimana ini bisa terjadi? Aku sudah menyemprotnya. Menyiramnya. Memangkas daun-daunnya. Minggu ini saja sudah dua kali."

Dad menggeleng-geleng sedih. "Oh, tomat-tomatku yang malang. Kalau si Ratu Merah sampai rusak akibat lalat buah itu, aku terpaksa mengundurkan diri dari pameran perkebunan!"

Mindy dan aku bertukar pandang. Aku tahu pikiran kami sama. Tingkah orang-orang dewasa di sini mulai agak aneh.

"Dad, lalatnya kan cuma seekor," ujarku.

"Satu saja sudah cukup, Joe. Cuma satu ekor lalat buah. Dan harapan kita untuk memenangkan hadiah pertama bisa dikubur dalam-dalam. Kita harus melakukan sesuatu.

Sekarang juga."

"Bagaimana dengan pembasmi hama yang baru?" aku mengingatkannya. "Yang dikirim minggu lalu dari katalog Green Thumb."

Mata Dad langsung berbinar-binar. Dengan sebelah tangan ia mengusap rambutnya yang acak-acakan. "Ya, Bug Be Gone!" serunya.

Serta-merta ia berlari ke garasi. "Ayo, anak-anak!" panggilnya. "Mari kita coba!"

Semangatnya bangkit lagi.

Mindy dan aku berlari mengikutinya.

Dad mengeluarkan tiga kaleng pembasmi hama dari kotak di bagian belakang garasi.

Label ketiga kaleng itu bertulisan "Ucapkan Selamat Tinggal Hama dengan Bug Be Gone," dihiasi gambar kumbang sedang menggotong koper sambil meneteskan air mata dan melambaikan tangan.

Mindy dan aku masing-masing mendapat satu kaleng. “Ayo, kita usir lalat buah itu!" seru Dad. Kami kembali ke pekarangan.

Kami melepaskan tutup kaleng Bug Be Gone di tangan masing-masing. "Satu, dua tiga... semprot!"

Dad memberi aba-aba.

Dad dan aku menyemprot tanaman-tanaman tomat yang terikat pada tiang-tiang kayu di tengah pekarangan.

Mindy tidak menyemprot. Dia sedang sibuk meneliti zat apa saja yang terkandung dalam pembasmi hama itu.

"Ada apa ini?" Mom keluar lewat pintu belakang. Mom memakai baju yang biasa dipakainya di rumah. Celana pendek kotak-kotak kepunyaan Dad, dipadu T-shirt biru yang dihadiahkan Dad sepulang dari perjalanan dinas beberapa tahun lalu. T-shirt itu bertulisan "I Mist You!" Kusiram Dirimu. Biasa, lelucon kebun yang tidak lucu.

"Hai, Sayang,” balas Dad. "Aku dan anak-anak sedang membantai lalat buah. Mau nonton?”

Mom tertawa, sudut matanya berkerut-kerut. "Kedengarannya menarik juga. Tapi aku harus menyelesaikan rancangan untuk kartu ucapan.”

Mom seorang seniman grafis. Ia berkantor di lantai atas rumah kami. Dengan komputernya Mom bisa membuat gambar-gambar yang bagus sekali. Matahari terbenam, pegunungan, dan bunga-bunga.

"Makan malam jam setengah delapan. Oke?"

"Oke," jawab Dad. Mom kembali masuk ke rumah. "Nah, anak-anak. Mari kita selesaikan misi penting kita!"

Sekali lagi Dad dan aku menyemprotkan obat pembasmi hama ke tanaman tomat dan labu. yang tumbuh di lajur sebelahnya. Mindy memicingkan mata Ia membidik si Ratu Merah. Lalu menyemprot satu kali.

Seekor lalat buah mengepak-ngepakkan sayap dan jatuh ke tanah. Mindy tersenyum puas.

"Tembakan jitu!" Dad memuji. Ia menepuk punggung Mindy dan aku. "Ini harus dirayakan!" katanya. “Aku punya ide bagus! Bagaimana kalau kita pergi sebentar ke Lawn Lovely?"

"Aduh, tidak usah, deh," Mindy dan aku mengeluh berbarengan.

Lawn Lovely berjarak dua blok dari rumah kami. Di toko itulah Dad biasa membeli hiasan untuk pekarangan. Ia paling suka berkunjung ke sana.

Dad tergila-gila pada dua hal: yang pertama, berkebun, yang kedua, hiasan taman. Saking banyaknya hiasan taman, pekarangannya sendiri sampai tidak kelihatan lagi!

Pekarangan kami benar-benar ramai! Ada sepasang burung flamingo berwarna pink yang terbuat dari plastik. Patung malaikat dari semen dengan sepasang sayap putih yang sangat lebar. Bola krom pada pelataran perak. Satu keluarga sigung yang terbuat dari gips. Air mancur dengan dua angsa yang sedang berciuman. Anjing laut yang melakukan atraksi keseimbangan dengan bola di ujung hidung. Dan rusa dari gips yang sudah rompal di sana-sini. Ajaib, bukan?

Tapi Dad menyukai semuanya. Ia menganggap benda-benda itu sebagai karya seni. Yang lebih gila lagi, setiap hari raya hiasan-hiasan itu dipakaikan baju. Topi kuno saat Thanks-giving. Kostum bajak laut untuk kedua flamingo di malam Halloween. Topi tinggi lengkap dengan janggut palsu untuk kedua angsa di hari ulang tahun Lincoln.

Mindy yang selalu rapi tentu saja tidak menyukai hiasan taman. Begitu juga Mom. Setiap kali Dad membawa pulang hiasan baru, Mom pasti mengancam akan membuangnya ke tong sampah.

"Dad hiasan-hiasan taman ini benar-benar memalukan!" keluh Mindy. "Semua orang yang lewat pasti menoleh dan mengambil foto. Memangnya rumah kita obyek wisata!"

"Ah, jangan mengada-ada" sahut Dad. "Cuma satu orang yang mengambil foto."

Peristiwa itu terjadi hari Natal yang lalu. Waktu itu semua hiasan taman dijadikan anak buah Sinterklas oleh Dad.

"Yeah. Dan foto itu akhirnya muncul di koran," Mindy berkomentar dengan kesal. "Siapa yang tidak malu kalau begitu?-"

"Ah, menurutku hiasan-hiasan ini cukup bagus," ujarku. Siapa lagi yang membela Dad kalau bukan aku.

Mindy cuma mengerut-ngerutkan hidung dengan kesal.

Aku tahu alasan sebenarnya Mindy tidak menyukai hiasan-hiasan taman. Yang membuatnya sebal adalah cara Dad mengatur semuanya, yaitu tanpa aturan sama sekali.

Kalau saja Mindy yang menempatkan hiasan-hiasan itu, ia akan menaruhnya seperti sepatu-sepatunya. Berderet rapi

"Ayo," Dad mendesak. Ia sudah berjalan ke trotoar. "Siapa tahu ada hiasan baru."

Kami tidak punya pilihan.

Mindy dan aku menyusuri trotoar di belakang Dad. Kami mengikutinya sambil berpikir-biar sajalah. Sebentar lagi toh sudah waktu makan malam. Paling-paling kami cuma lihat-lihat sebentar di toko, lalu pulang.

Kami sama sekali tidak menyangka bahwa itulah awal petualangan paling mengerikan seumur hidup kami.



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen judi online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online