Chapter 9
"EH,
bukankah ini biji melon?" tanyaku dengan suara gemetar.
"Apa?"
Moose menghampiriku dari belakang.
"Biji
melon," kataku sekali lagi.
Moose
menggelengkan kepala. Ia menepuk pundakku dengan tangannya yang besar.
"Kau
salah lihat," katanya. "Ayo, kita main lagi."
Aku menunjuk
mulut Chip. "Aku tidak salah lihat. Coba kaulihat sendiri?"
Moose ikut
memperhatikan mulut Chip. "Yeah, Ada biji. Memangnya kenapa?"
"Itu
biji melon casaba, Moose. Seperti -biji-biji yang berserakan di kebun
ayahmu."
Bagaimana
biji casaba itu bisa sampai ke mulut Chip? Pasti ada penjelasan yang masuk
akal.
Aku memeras
otak. Tak satu penjelasan pun terpikir olehku.
Aku menepis
biji itu dari bibir si kurcaci dan memperhatikannya jatuh ke rumput.
Lalu kutatap
wajah kurcaci yang nyengir lebar itu. Kutatap matanya yang dingin dan datar.
Ia membalas
tatapanku. Aku merinding, padahal saat itu udara sudah mulai panas.
Bagaimana
biji itu bisa sampai ke situ? aku bertanya-tanya. Bagaimana caranya?
Malam itu
aku bermimpi tentang melon. Aku bermimpi ada melon casaba tumbuh di pekarangan
kami. Melon itu tumbuh dan tumbuh dan tumbuh. Sampai lebih besar dari rumah
kami
Entah kenapa,
aku terbangun di tengah mimpiku. Dengan terkantuk-kantuk aku meraih weker.
Ternyata baru pukul satu pagi.
Lalu
kudengar suara melolong di luar rumah. Lolongannya panjang dan menyayat hati.
Cepat-cepat
aku melompat dari tempat tidur dan bergegas ke jendela. Aku memandang ke
pekarangan depan yang gelap. Semua hiasan taman berdiri membisu.
Lolongan itu
terdengar lagi. Lebih keras. Lebih panjang.
Rupanya
Buster. Anjingku yang malang. Ia masih terikat di pekarangan belakang.
Aku
menyelinap keluar dari kamar dan mengendap-endap di koridor yang gelap.
Suasananya
sunyi. Perlahan-lahan aku menuruni tangga yang dilapisi karpet.
Sebuah anak
tangga berderak ketika kuinjak. Aku tersentak.
Sedetik
kemudian kudengar bunyi berderak lagi.
Lututku
gemetaran.
Tenang saja,
Joe, kataku dalam hati. Itu cuma bunyi tangga.
Sambil
mengendap-endap aku melintasi ruang duduk yang gelap dan masuk ke dapur. Di
belakangku sesuatu mendesir pelan sekali. Jantungku langsung berdegup-degup.
Aku
berbalik.
Tidak ada
apa-apa.
Mungkin cuma
khayalanku saja.
Aku maju
dalam kegelapan. Meraih gagang pintu. Dan sekonyong-konyong sepasang tangan
yang kuat mencengkeramku dari belakang.
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu
online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di
agen judi online dan daftar menjadi
member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus.
Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan
menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar