Chapter 8
SENYUM di
wajah kurcaci itu lenyap.
Mulutnya
menganga lebar seakan hendak menjerit.
"Hei...!"
teriakku dengan suara parau.
"Ada
apa?" seru Dad. "Ada yang rusak, ya?"
"Senyumnya!"
sahutku kalang-kabut. "Senyumnya hilang! Sepertinya ia ketakutan!"
Dad langsung
turun dari beranda dan bergegas menghampiriku. Moose dan Mr. McCall juga ikut.
Mindy
menyusul pelan-pelan. Mukanya cemberut. Ia pasti menyangka aku cuma bercanda.
"Lihat!"
seruku ketika semua sudah berkerumun di sekelilingku. "Aneh sekali!"
"Hahaha!
Benar-benar kocak, Joe!" ujar Moose. Langsung saja ia menonjok pundakku.
"Lucu
sekali."
"Hah?"
Aku menatap patung kecil itu.
Hap sudah
tersenyum lagi. Senyum konyol seperti semula. Raut mukanya yang ketakutan
hilang sama sekali.
Dad juga
tertawa. "Kau memang pintar bersandiwara, Joe," katanya. "Kau
berhasil mengelabui kami semua."
"Barangkali
anakmu itu berbakat jadi bintang film," ujar Mr. McCall sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Aku
tidak ketipu," Mindy berkoar. "Aku langsung tahu ia cuma iseng."
Sebenarnya
apa yang terjadi? Aku sendiri bingung. Apakah cuma khayalanku bahwa mulut Hap
menganga lebar?
Mr. McCall
berpaling pada Dad. “Begini, Jeffrey." katanya. "Aku prihatin soal
anjingmu itu. Kalau ia sekali lagi menerobos ke pekaranganku..."
"Kalau
Buster sampai masuk ke pekaranganmu lagi, ia akan kami ikat sepanjang
hari,"
Dad
berjanji.
"Aduh,
jangan," kataku. "Buster kan paling tidak suka diikat!"
"Sori,"
sahut Dad. "Aku tidak mau berdebat tentang ini. Ini kesempatan terakhir
untuk Buster," katanya sambil melangkah masuk.
Aku
membungkuk dan membelai-belai kepala Buster. "Ini kesempatan terakhir
untukmu" aku berbisik ke telinganya. "Kau dengar? Kesempatan
terakhir."
Keesokan
pagi aku bangun dan melirik weker pada meja di samping tempat tidurku Pukul
delapan, hari Selasa. Hari kedua liburan musim panas.
Asyik!
Cepat-cepat
aku memakai kaus Vikings ungu-putih dan celana olahraga. Kemudian aku bergegas
menuruni tangga. Sudah waktunya memotong rumput.
Dad dan aku
punya kesepakatan. Kalau aku memotong rumput sekali seminggu selama musim
panas, Dad akan membelikanku sepeda baru. Aku sudah tahu model sepeda yang akan
kupilih. Dua puluh satu gigi dengan ban yang benar-benar tebal. Sepeda gunung
paling keren yang pernah ada. Dengan itu aku bisa terbang melewati batu-batu
besar!
Aku keluar
lewat pintu depan dan menghadap matahari pagi. Sinarnya terasa hangat di
wajahku. Rumput di pekarangan masih basah dan berkilau-kilau karena embun
"Joe!"
seseorang berseru dengan lantang. Itu suara Mr. McCall. "Cepat
kemari!"
Mr. McCall
sedang berdiri di kebun sayurnya. Urat nadi di pelipisnya tampak
berdenyut-denyut.
Oh-oh,
pikirku sambil menghampirinya. Ada apa lagi sekarang?
"Ini
sudah kelewatan," ia langsung menukas marah. "Kalau anjing kalian
tidak diikat aku akan memanggil polisi. Dan aku tidak main-main!"
Mr. McCall
menunjuk ke tanah. Salah satu melon casabanya tergeletak, pecah berantakan.
Biji-biji melon berserakan di mana-mana. Dan hampir semua jeruknya habis
digerogoti.
Aku membuka
mulut tapi tak ada suara yang keluar. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Untung Dad
segera muncul. Ia hendak berangkat ke kantor.
"Astaga,
Bill! Kau minta saran soal berkebun dari anakku?" gurau Dad.
"Hari
ini tidak ada kelakar," balas Mr. McCall ketus. Ia memungut sisa-sisa
melon dan menyodorkannya ke depan hidung Dad. "Lihat apa yang dilakukan
anjingmu yang liar itu! Sekarang melonku tinggal empat!"
Dad
berpaling padaku. Raut mukanya jadi serius.
"Kan
aku sudah memperingatkanmu, Joe! Sudah kubilang anjing itu harus kau jaga,
jangan sampai keluar dari pekarangan kita."
"Tapi
ini bukan perbuatan Buster," aku memprotes. "Ia tidak suka melon,
kok!"
Buster
bersembunyi di balik kawanan flamingo. Telinganya terkulai lemas. Ekornya pun
terselip di antara kedua kaki belakangnya. Ia kelihatan bersalah.
"Hah,
siapa lagi kalau bukan dia?" Mr. McCall menantang. .
Dad
menggelengkan kepala. "Joe, ikat Buster di belakang. Sekarang juga!"
Aku sadar
aku tidak punya pilihan. Aku tahu tak ada gunanya berdebat.
"Oke,
Dad," gumamku lesu. Aku berjalan mengelilingi kawanan flamingo dan meraih
ikat leher Buster. Kutarik ia sampai ke pojok pekarangan belakang dan kusuruh
ia duduk di samping rumah-rumahan yang kami buatkan untuknya. "Duduk
sini!"
Aku
memeriksa garasi dan menemukan seutas tali yang cukup panjang. Aku mengikat
Buster ke pohon ek di samping rumah-rumahannya. Buster merintih. Ia paling
tidak suka diikat begini.
"Sori,
Buster," bisikku. "Aku tahu bukan kau yang makan melon itu."
Buster
menegakkan telinga ketika Dad muncul untuk memeriksa. "Buster memang harus
diikat hari ini," katanya. "Tukang-tukang yang mau mencat rumah akan
datang nanti sore Aku tak mau Buster mengganggu mereka."
"Tukang
cat?" aku bertanya dengan heran. Aku sama sekali tak tahu rumah kami mau
dicat lagi. Aku benci bau cat basah!
Dad mengangguk.
"Mereka akan melapis cat kuning yang sudah kusam. Semua dinding akan dicat
putih, sedang bagian tepinya hitam."
"Dad,
soal Buster..." aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dad langsung
mengangkat tangan menyuruhku diam. "Aku harus berangkat sekarang.
Biarkan ia
terikat begitu. Nanti kita bicarakan lagi."
Ini semua
gara-gara Mr. McCall, pikirku. Dia yang salah! Aku menunggu sampai Dad masuk ke
mobil dan berangkat ke kantor. Dengan jengkel aku masuk ke garasi dan mengambil
mesin potong rumput. Aku mendorong mesin itu melewati bagian samping rumah,
menuju pekarangan depan. Mindy duduk membaca di beranda. Dengan gusar aku mulai
bekerja.
"Aku
kesal pada Mr. McCall!" seruku. Kudorong mesin potong rumput mengitari
seekor flamingo. Rasanya aku ingin membabat kakinya yang ceking. "Ia
memang brengsek.
Mestinya
keempat melon lainnya kuinjak-injak sekalian! Biar hancur semuanya, dan Mr.
McCall
berhenti mengganggu kita!"
"Joe,
jangan marah-marah melulu!" seru Mindy sambil mengalihkan pandangan dari
bukunya.
Selesai
memotong rumput, aku berlari masuk dan mengambil kantong plastik besar untuk
memasukkan rumput yang sudah kupotong. Ketika keluar lagi, Moose sudah
telentang di rumput. Gelang-gelang plastik warna-warni berserakan di
sekelilingnya.
"Hei,
tangkap!" serunya. Serta-merta ia melemparkan gelang plastik biru ke
arahku. Aku langsung melepaskan kantong dan menangkap gelang itu.
"Boleh
juga!" kata Moose bangkit. "Kita main lempar-lemparan, yuk? Topi-topi
kurcaci itu kita jadikan sasaran."
"Kenapa
bukan kepala Mindy saja?" sahutku.
"Huh,
dasar bocah," ejek Mindy. Ia berdiri dan melangkah ke pintu. "Aku mau
cari tempat tenang agar bisa membaca tanpa diganggu."
Moose memberiku
sejumlah gelang. Ia melemparkan gelang ungu ke arah Hap.
Lemparannya
tepat pada sasaran.
"Wow,
hebat!" serunya.
Aku meraih
dua gelang kuning, berputar-putar seperti atlet lempar cakram. Lalu kulemparkan
ke arah Chip. Keduanya membentur muka Chip dan jatuh ke rumput.
Moose
tertawa. "Lemparanmu seperti cewek. Lihat, nih. Begini caranya!" Ia
mencondongkan tubuh ke depan dan melontarkan dua gelang. Lagi-lagi tepat pada
sasaran.
"Yes!"
seru Moose. Ia mengembungkan otot-ototnya yang kekar. "Super Moose tetap
jaya!"
Kami
bergantian melempar gelang-gelang yang tersisa. Moose berhasil mengalahkan aku.
Tapi cuma selisih dua angka, sepuluh lawan delapan.
"Ulang
lagi!" aku menantangnya. "Ayo, kita bertanding sekali lagi!"
Aku bergegas
menghampiri kedua kurcaci untuk mengambil gelang. Ketika aku mengambil cincin
yang melingkar di topi Chip, mendadak aku terenyak.
Dan menahan
napas.
Apa itu?
Kelihatannya
seperti biji. Biji berwarna jingga dengan panjang sekitar dua senti.
Tersangkut
di antara kedua bibir kurcaci itu
Bagi anda yang berminat
dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link
situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka
anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan
fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar