Chapter 3
"M-MIIINDY"
aku mengerang.
Moose
melepaskan tangannya dari leherku dan berdiri pelan-pelan.
"Apa
yang kaulakukan? Apa yang kaulakukan?" Mindy menjerit-jerit. Ia berlutut
di sampingku dan membungkuk. Dengan lembut disibakkannya rambut yang menutupi
mataku.
"Ka-kau..."
aku tergagap lalu batuk-batuk.
"Apa,
Joe? Ada apa?" Mindy bertanya lembut.
"Kau
KETIPU!" seruku. Serta-merta aku tertawa terbahak -bahak.
Mindy
langsung berdiri. "Kurang ajar kau!"
"Ketipu!
Ketipu!" aku" bersorak riang.
"Yeah,
keren, dude!" ujar Moose sambil nyengir.
Aku
cepat-cepat bangkit dan mengajaknya ber-high five. "Ketipu! Ketipu!"
kami bersenandung tanpa henti.
Mindy
menyilangkan tangannya yang kurus sambil melotot ke arah Moose dan aku.
"Tidak
lucu!" hardiknya. "Mulai sekarang aku takkan percaya apa pun yang
kaukatakan.
Tidak
akan!"
"Oh aku
jadi ngeriiii!" sahutku. Kubiarkan kedua lututku beradu. "Lihat, nih?
Kakiku sampai gemetaran.
"Aku
juga," Moose menimpali sambil menggoyang-goyangkan badan.
"Kalian
seperti anak kecil!" seru Mindy. "Ya sudah, aku pergi saja."
Ia
menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celana dan langsung angkat kaki. Tapi
sebelum mencapai tangga tiba-tiba ia berhenti. Pada dinding dekat tangga
terdapat jendela yang menghadap ke pekarangan depan Mr. McCall.
Sejenak
Mindy memandang ke luar. Ia memicingkan mata, lalu memekik, "Ya,
ampun!"
"Mau
balas dendam, ya?" tanyaku sambil mencibir. "Tak ada apa-apa di luar.
Sori, aku tidak bakal ketipu!"
"Itu
Buster!" seru Mindy. "Ia ada di sebelah!"
''Hah?' Aku
langsung berlari ke jendela. Dan melompat ke atas kursi Terburu-buru kusibakkan
gorden yang tipis.
Ya. Buster
memang ada di sana. Ia sedang duduk di tengah-tengah kebun sayur Mr. McCall.
"Wah, gawat. Mau apa ia ke sana?" aku bergumam.
"Di
kebunku? Awas kalau ia berani macam-macam!" seru Moose sambil menghampiri
jendela. Ia mendorongku dari kursi supaya bisa melihat lebih jelas. "Kalau
ayahku memergokinya, ia bakal dicincang dan dijadikan pupuk!" .
"Ayo!
Cepat!" Mindy menarik tanganku "Buster harus kita bawa pergi. Sebelum
ayah Moose menangkapnya!"
Moose,
Mindy, dan aku berlari menaiki tangga dan menyerbu keluar lewat pintu depan.
Kami
melintasi pekarangan, menuju rumah keluarga McCall.
Di batas
pekarangan, kami melompati deretan bunga petunia berwarna kuning dan putih yang
ditanam Dad. Deretan bunga itu memisahkan pekarangan kami dari pekarangan
keluarga McCall.
Mindy
mencengkeram lenganku erat-erat. "Buster mulai menggali!" pekiknya.
"Ia bakal merusak melonnya!"
Buster
bekerja keras dengan kaki depannya yang kuat. Ia mengais tanah dan
tanaman-tanaman hijau. Tanah dan daun-daun beterbangan ke segala arah.
"Stop,
Buster!" Mindy berusaha membujuknya. "Berhenti!"
Buster terus
menggali.
Moose
melirik arloji plastiknya. "Sebaiknya kalian segera menyingkirkan dia dari
sini.
Sudah hampir
jam enam. Sebentar lagi ayahku keluar untuk menyiram tanaman!"
Terus terang
saja aku benar-benar ngeri kalau harus berurusan dengan Mr. McCall.
Tubuhnya
tinggi besar. Tampangnya galak. Dibandingkan ayahnya Moose tak ada apa-apanya!
"Buster,
kemari!" Mindy dan aku memanggil-manggil anjing itu.
Tapi Buster
tidak menghiraukan seruan-seruan kami.
"Jangan
diam saja. Kenapa anjing konyol itu tidak kalian tarik saja?" tanya Moose.
Aku
menggelengkan kepala. "Tidak bisa. Ia terlalu besar. Dan sangat keras
kepala. Ia takkan mau mengalah."
Aku meraih
ke balik T-shirt mencari peluit anjing yang selalu tergantung di leherku.
Peluit yang
terbuat dari logam mengilap itu tak pernah kulepas, baik siang maupun malam.
Aku bahkan memakainya kalau tidur. Peluit itulah satu-satunya cara untuk
mengendalikan Buster
"Jam
enam kurang dua menit," Moose memperingatkan sambil menatap arlojinya.
"Ayahku
akan keluar pukul enam tepat!"
"Tiup
peluitnya, Joe!" seru Mindy
Kutempelkan
peluit ke mulut. Lalu kutiup keras-keras Moose ketawa. "Peluitnya
rusak," katanya. "Aku tidak dengar apa-apa."
"Itu
peluit anjing," ujar Mindy dengan nada menggurui. "Nadanya tinggi
sekali. Anjing bisa mendengarnya, tapi manusia tidak. Nah, betul, kan ?"
Ia menunjuk
Buster. Anjing itu berhenti menggali dan menegakkan telinga.
Sekali lagi
kutiup peluit. Buster menggoyang-goyangkan badan untuk membersihkan tanah yang
menempel pada bulunya.
"Tiga
puluh detik lagi" Moose memberi tahu kami.
Aku meniup sekali
lagi.
“Yes!”
Perlahan-lahan
Buster berjalan ke arah kami. Ia melangkah sambil mengibas-ngibaskan ekornya
yang pendek.
"Cepat,
Buster!" desakku. "Cepat!" Kedua tanganku kurentangkan
lebar-lebar.
"Buster-lari-jangan
melenggang!" Mindy memohon.
Terlambat.
Kami
mendengar bantingan keras. Pintu rumah Moose membuka.
Dan Mr.
McCall melangkah ke luar.
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu
online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di
agen judi online dan daftar menjadi
member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus.
Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan
menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar