Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 4

Chapter 4


"JOE! Kemari. Cepat!" ayah Moose menghardikku.


Ia melangkah ke kebun. Perutnya yang buncit berayun-ayun di balik T-shirt birunya.

“Ayo kemari, Nak - sekarang juga!"

Mr. McCall pensiunan tentara. Ia terbiasa main perintah. Dan semua perintahnya harus dituruti.

Aku tidak berani membangkang. Buster ikut berjalan di sampingku.

“Anjing itu habis dari pekaranganku lagi, ya?"

Mr. McCall bertanya sambil menatapku dengan tajam. Darahku serasa membeku.

"Tidak, S-Sir!" aku tergagap-gagap. Buster duduk di sebelahku sambil menguap lebar.

Aku tidak biasa berbohong. Kecuali pada Mindy. Tapi ini masalah hidup-mati bagi Buster. Aku harus menyelamatkannya. Ya, kan?

Mr. McCall berjalan ke lajur sayur-mayur. Ia mengelilingi tomat-tomatnya, jagungnya, terongnya, melon casabanya. Setiap batang dan setiap daun diperiksanya dengan saksama.

Wah, gawat, pikirku. Masalahnya bisa berbelit-belit.

Akhirnya setelah puas melakukan inspeksi, ia menoleh ke arah kami. Matanya memicing. "Kalau anjing itu tidak masuk kemari, kenapa ada tanah berserakan di mana-mana?"

"Ehm, ba-barangkali karena angin?" sahutku pelan. Tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu ia percaya.

Moose tegak sambil berdiam diri di sampingku. Kalau di dekat ayahnya ia memang mendadak bisu.

"Ehm, Mr. McCall," Mindy bicara. "Kami berjanji Buster takkan masuk ke pekarangan Anda lagi. Sungguh!" Kemudian ia mengembangkan senyumnya yang paling manis.

Mr. McCall merengut. "Baiklah. Tapi, awas! Kalau ia sampai kepergok mengendus-endus melon-melonku, aku akan memanggil polisi, biar ia dibawa ke tempat penampungan binatang. Aku tidak main-main."

Aku menelan ludah. Aku tahu ia tidak main-main. Mr. McCall tidak pernah main-main.

"Moose!" panggilnya dengan ketus. "Ambil slang dan siram casaba ini! Kan sudah kubilang tanaman ini harus disiram paling tidak lima kali sehari."

"Sampai nanti," Moose bergumam padaku. Ia menundukkan kepala, bergegas ke belakang rumahnya untuk mengambil slang.

Sekali lagi Mr. McCall mendelik ke arah kami. Kemudian ia masuk ke rumah dan membanting pintu.

"Barangkali karena angin?" Mindy kembali memutar-mutar bola mata. "Wo - itu alasan paling bagus yang pernah kudengar," komentarnya sambil tertawa mengejek.

"Oh, yeah? Paling tidak aku masih bisa menjawab," sahutku. "Dan jangan lupa, Buster selamat berkat peluitku. Kau cuma cengar-cengir saja."

Mindy dan aku pulang. Sepanjang jalan kami terus berdebat. Tapi segera diam ketika terdengar erangan tertahan. Bunyi itu membuat bulu kudukku berdiri. Buster pun langsung menegakkan telinga.

"Si-siapa itu?" bisikku.

Sedetik kemudian kami mendapatkan jawabannya. Dad muncul dari samping rumah. Ia membawa kaleng besar yang biasa dipakainya untuk menyiram tanaman.

Dad memakai baju berkebun kegemarannya - sepatu kets yang sudah berlubang, celana pendek kotak-kotak dan T-shirt merah dengan tulisan 'Berkebun? Ogah la yauw!’

Dad mengerang lagi. Ini aneh. Soalnya Dad selalu riang gembira saat berkebun. Biasanya ia bersiul-siul, senyum-senyum, dan asyik menceritakan lelucon-lelucon yang tidak lucu pada tanaman-tanamannya.

Tapi hari ini tidak.

Pasti ada yang tidak beres.

"Anak-anak..." Dad menghampiri kami dengan langkah gontai. "Dari tadi aku mencari kalian"

"Dad-ada apa?" tanya Mind-

Dad memegang kepalanya dan menggoyangkannya dari kiri ke kanan. Ia mengambil napas dalam-dalam.

"Aku punya kabar buruk untuk kalian."



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online