Chapter 2
"JOE!"
ia berseru. Suaranya menggelegar. Lantai bergetar ketika ia memasuki ruang
bawah tanah.
Wajah Mindy
langsung pucat pasi. Ia menggenggam gagang bet erat-erat, begitu erat hingga
buku-buku tangannya putih semua. Ia berusaha membalik untuk melihat ke
belakang, tapi tidak sanggup bergerak. Kakinya tidak mau beranjak dari posisi
serve-nya.
McCall
mengepalkan kedua tangannya. Rupanya ia benar-benar marah.
"Awas
kau. Kali ini aku pasti menang. Mana betku ?"
"Dasar
brengsek!" seru Mindy. "A-aku sudah tahu itu bukan Mr. McCall. Aku
sudah tahu itu cuma si Moose."
Moose putra
Mr. McCall sekaligus sahabat karibku. Nama sebenarnya Michael tapi semua orang
memanggilnya Moose. Termasuk orang tuanya.
Moose anak
paling besar di kelas enam. Juga yang paling kuat. Pahanya sebesar batang
pohon. Begitu pula lehernya. Dan ia cerewet sekali. Persis ayahnya.
Mindy tidak
suka pada Moose. Menurutnya Moose Jorok dan norak.
Menurutku
sih, ia benar-benar cool.
"Hei,
Joe! Mana betku?" Otot-otot lengan Moose menggembung ketika ia hendak
merebut bet yang sedang kupegang.
Aku
cepat-cepat mundur. Tapi tangan Moose yang besar langsung menepuk pundakku.
Saking
kerasnya, rasanya kepalaku hampir copot.
"Aduuuuh!"
aku memekik.
Tawa Moose
meledak. Seketika seluruh ruangan seperti terguncang-guncang. Lalu ia
mengakhirinya dengan bersendawa.
"Moose,
kau benar-benar memuakkan," Mindy mengomel.
Moose
menggaruk-garuk rambut cokelatnya yang dipotong cepak. "Wah, thanks,
Mindy:"
"Thanks
untuk apa?"
"Untuk
ini." Tangan Moose melesat maju, dan secepat kilat ia merebut bet dari
tangan Mindy:
Moose
langsung mengayun-ayunkan bet itu. Hampir saja mengenai lampu gantung.
"Siap untuk pertandingan sungguhan, Joe?"
Ia melempar
bola ke atas dan mengambil ancang-ancang dengan lengannya yang berotot.
Pang! Bola
melesat melintasi ruangan, memantul pada dua dinding, lalu melayang melewati
net dan terbang ke arahku.
"Foul!"
teriak Mindy: "Itu tidak boleh."
"Wow,
keren!" seruku Aku berusaha memukul bola, tapi meleset. Servis Moose
memang hebat.
Moose
kembali melakukan serve. Kali ini bola langsung menghantam dadaku.
Plokkk!
"Hei!"
aku memekik. Kugosok-gosok dadaku yang perih.
"Hebat
juga, ya?" katanya sambil nyengir.
"Yeah.
Tapi seharusnya kena meja dulu," protesku kesal.
Moose
mengacungkan tinjunya. "Super Moose!" soraknya lantang. "Sekuat
pahlawan super!"
Moose memang
agak urakan. Mindy bilang tingkahnya seperti orang gila. Tapi menurutku, ia
cuma terlalu bersemangat.
Aku
melakukan serve sementara ia masih mengacung-acungkan tangan.
"Hei!
Curang!" teriaknya. Moose menerjang meja dan menghantam bola. Bolanya
langsung gepeng. Gepeng seperti panekuk putih yang mungil.
Aku
mengerang. "Ini bola kelima belas dalam sebulan ini."
Kuraih
panekuk kecil itu dan melemparkannya ke peti plastik biru bekas botol susu.
Peti itu sudah penuh bola pingpong gepeng. Jumlahnya lusinan.
"Hei!
Kurasa kau baru saja memecahkan rekormu sendiri!" kataku.
"Yeah!"
seru Moose. Ia naik ke atas meja pingpong dan melompat-lompat. "Super
Moose!" teriaknya.
"
Berhenti, brengsek!" Mindy menjerit. "Mejanya bisa rusak tuh!"
Ia menutupi wajah dengan kedua tangan karena tak berani melihat.
"Super
Moose! Super Moose!"
Meja
pingpong bergoyang-goyang. Lalu berderak, tidak kuat menahan berat badan Moose.
Ini sudah kelewatan. "Hei, turun! Turun, Moose!" aku membentak.
"Kalau
aku tidak mau, kalian mau apa?" tantangnya.
Tiba-tiba
terdengar bunyi kraaak yang keras sekali.
"Awas!"
Mindy menjerit. "Mejanya ambruk!"
Moose segera
melompat turun. Ia menghampiriku, kedua tangan terangkat lurus ke depan,
seperti zombie dalam film TV Killer Zombie from Planet Zero. "Sekarang kau
akan mati!"
Lalu ia
menerjang maju.
Moose
menabrakku, aku mundur terhuyung-huyung dan jatuh ke lantai semen yang berdebu.
Moose
cepat-cepat menduduki perutku. "Katakan 'Tomat Moose’ yang terbaik!'"
perintahnya padaku. Kemudian ia bergoyang-goyang di dadaku.
"To...
tomat," Aku terengah-engah. "Tomat... Moose... aku... tidak...
bisa... napas... sungguh... ampun." .
"Katakan!"
Moose memaksa. Ia mencengkeram leherku dengan tangannya yang kuat lalu mulai
mencekik.
"Uhhhhh"
aku mengerang. Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak bisa bergerak.
Kepalaku
terkulai lemas.
"Moose!"
kudengar jeritan Mindy. " Lepaskan! Lepaskan! Apa yang kaulakukan?"
Bagi anda yang berminat
dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link
situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka
anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan
fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar