Chapter 22
"BANTULAH
kami! Bantulah kami!"
"Ayo,
kita bantu mereka," ajak Moose, akhirnya bisa bicara lagi.
Aku
berpaling pada Mindy. sebenarnya aku enggan meminta saran padanya, tapi
bagaimanapun juga dialah yang tertua di antara kami. "Bagaimana
menurutmu?"
Mindy
menggigit bibir. "Hmm, kau tahu sendiri bahwa Buster paling tidak senang
diikat," katanya. "Ia selalu ingin bebas. Kurasa semua makhluk berhak
hidup bebas.
Termasuk
kurcaci hiasan taman."
Aku kembali
berpaling pada Chip dan Hap.
"Oke!"
kataku. "Kami akan membantu kalian!"
"Oh,
terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!"
Chip
berseru-seru gembira. Saking senangnya ia melompat dan mengayunkan kedua
kakinya, sehingga tumit sepatunya beradu. "Ayo! Cepat!"
"sekarang?"
Mindy memekik. "sekarang sudah tengah malam! Apa tidak bisa ditunda sampai
besok?"
"Tidak.
Ayo, sekarang," Hap berkeras.
"Selagi
gelap," Chip menambahkan. "Selagi tokonya tutup. Ayo. Kita harus
cepat-cepat."
"Aku
belum berpakaian," sahut Mindy: "Dan kurasa kita tidak bisa pergi
sekarang.
Kurasa..."
"Kalau
kalian tidak berangkat sekarang juga, kami terpaksa membuat onar lagi"
Chip berkata sambil mengedipkan mata.
Aku tentu
saja keberatan. "Ayo, kita berangkat sekarang saja!" ujarku.
Maka kami
berlima menyusuri jalan yang gelap, mendaki bukit ke Lawn Lovely. Wow, rasanya
aneh sekali! Berjalan-jalan di tengah malam buta bersama sepasang hiasan taman!
Dan kami berniat menyusup ke toko untuk membebaskan enam hiasan taman lainnya!
Pada siang
hari pun, rumah tua berwarna pink itu sudah cukup aneh. Tapi malam-malam begini
kesannya benar-benar seram. Semua hiasan taman menatap kami dengan pandangan
kosong dalam kegelapan malam. Rusa, anjing laut, dan kawanan flamingo.
Jangan-jangan
mereka sebenarnya juga hidup? aku bertanya-tanya.
Pikiranku
itu seakan-akan terbaca oleh Hap. "Mereka cuma hiasan," katanya
mencibir.
Kedua
kurcaci langsung melintasi pekarangan depan yang lebar, lalu menyusuri bagian
samping rumah Mrs. Anderson. Moose, Mindy dan aku mengikuti mereka.
Mindy
berpegangan pada lenganku. Tangannya sedingin es. Kakiku juga masih gemetaran.
Tapi jantungku berdegup-degup karena senang bukan karena ngeri.
Hap dan Chip
menunjuk jendela rendah yang menuju ke ruang bawah tanah. Aku berlutut dan
mengintip ke dalam. Keadaannya gelap gulita.
"Kalian
yakin kawan-kawan kalian ada di bawah sana?" aku bertanya.
"Oh,
ya," sahut Chip berapi-api. "Semuanya berenam. Mereka menunggu
diselamatkan oleh kalian."
"Cepatlah,"
Hap memohon sambil mendorongku ke jendela. "Sebelum perempuan tua itu
mendengar kita, dan bangun."
Aku
menyelinap lewat jendela yang terbuka. Lalu berpaling pada Moose dan Mindy di
belakangku.
"Kami
segera menyusul," bisik Moose.
"Cepat
selamatkan mereka," Mindy mendesak, "biar kita bisa segera pergi dari
sini."
"Oke,
bersiap-siaplah," ujarku pelan-pelan.
Aku
menyilangkan jari dan merosot ke dalam kegelapan.
Bagi anda yang berminat
dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link
situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka
anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan
fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar