Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 21

Chapter 21


MINDY mengayun-ayunkan tangan. Kakinya menendang-nendang, mencoba melepaskan diri. Tapi kurcaci-kurcaci yang gemar cekikikan itu ternyata sangat kuat sekali.


"Tolong!" Mindy berteriak pada Moose dan aku "Jangan diam saja-tolong aku!"

Aku menelan ludah. Rasa nyeri di pinggangku tak kuhiraukan lagi.

Moose dan aku langsung mengejar mereka. Mindy sudah diseret sampai ke jalan.

Langkah para kurcaci berdebam-debam di aspal. Di bawah cahaya lampu jalanan, kulihat Mindy meronta-ronta untuk membebaskan diri.

Moose dan aku berlari ke trotoar. "Lepaskan dia!" teriakku terengah. "Lepaskan kakakku!

Sekarang juga!"

Hap dan Chip malah cekikikan lagi. Mereka bergegas melewati rumah Moose. Melewati dua rumah berikutnya.

Moose dan aku terus mengejar. Kami berseru-seru, memohon mereka berhenti.

Lalu, di luar dugaan, mereka berhenti.

Mereka melepaskan Mindy di bawah pagar tanaman yang tinggi, lalu berpaling pada Moose dan aku. "Kami tidak bermaksud jahat," ujar Chip.

Raut muka kedua kurcaci tampak serius sekarang. Mata mereka yang merah bersinar dalam kegelapan.

"Ini pasti cuma mimpi!" seru Mindy sambil merapikan kimononya. "Ini tidak masuk akal! Tidak masuk aka!!"

"Memang benar," sahutku.

"Dengarkan kami," Hap berkata dengan suara parau.

"Kami tidak bermaksud jahat," Chip mengulangi.

"Tidak bermaksud jahat?!" Mindy memekik. "Tidak bermaksud jahat?! Ka-kalian baru saja menculikku dari rumahku sendiri! Kalian... kalian..."

"Kami hanya ingin menarik perhatian kalian," sahut Hap pelan-pelan.

"Dan sekarang kalian sudah mendapatkannya!" seru Mindy dengan gusar.

"Kami tidak bermaksud jahat," Chip berkata sekali lagi. "Percayalah."

"Bagaimana kami bisa percaya?" sergahku. "Lihat semua kekacauan yang kalian buat.

Kalian menghancurkan kebun! Kalian mencipratkan cat ke mana-mana! Kalian..."

"Kami terpaksa," Hap memotong.

"Sungguh, kami terpaksa," Chip menimpali.

"Soalnya, kami ini Kurcaci Pembuat Onar"

"Apa?" seru Mindy.

"Kurcaci Pembuat Onar. Kami membuat onar. Itulah tujuan hidup kami," Hap menjelaskan.

"Di mana ada onar di dunia, di situlah kami berada," Chip menambahkan. "Membuat onar adalah tugas kami. Kami tidak bisa berbuat lain."

Ia membungkuk dan mematahkan sepotong beton dari pinggiran trotoar. Kemudian ia membuka kotak surat di seberang jalan dan menyelipkan potongan beton itu.

"Tuh! Aku tidak bisa menahan diri. Aku harus membuat onar ke mana pun aku pergi."

Hap cekikikan. "Tanpa kami, dunia ini pasti membosankan sekali-ya, kan?"

"Justru dunia akan lebih baik," Mindy berkeras sambil menyilangkan tangan di depan dada.

Sejak tadi Moose belum mengucapkan sepatah kata pun. Ia cuma berdiri sambil menatap kedua kurcaci yang bisa bicara.

Hap dan Chip cemberut. "Tolong jangan menyakiti hati kami," Chip berkata parau.

"Hidup kami tidak mudah."

"Kami butuh bantuan kalian," Hap menambahkan.

"Kalian minta bantuan untuk membuat onar?" seruku. "Enak saja! Aku sudah cukup mendapat banyak masalah gara-gara kalian."

"Bukan. Kami butuh bantuan kalian untuk memperoleh kebebasan," Chip berkata sungguh-sungguh.

"Kumohon-dengarkanlah ceritaku dan percayalah kata-kataku."

"Dengar dan percaya" Hap membeo.

"Dulu kami tinggal di negeri yang jauh sekali dari sini," Chip mulai bercerita. "Di hutan yang lebat dan hijau. Kami menjaga tambang-tambang dan melindungi pepohonan.

Sesekali kami memang berbuat jail, tapi kami juga banyak berbuat baik."

"Bangsa kami bekerja keras," Hap melanjutkan sambil garuk-garuk kepala. "Dan kami hidup bahagia di tengah hutan."

"Tapi kemudian tambang-tambang ditutup dan pohon-pohon ditebang," Chip kembali bicara. "Kami ditawan. Diculik. Dibawa pergi dari rumah kami. Kami dibawa ke negeri kalian dan dipaksa bekerja sebagai hiasan taman."

"Sebagai budak," ujar Hap sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan sedih. "Kami dipaksa berdiri siang dan malam."

"Keterlaluan!" seru Mindy. "Apa kalian tidak bosan? Bagaimana kalian tahan berdiri begitu lama tanpa bergerak?"

"Kami disihir," Chip menjelaskan. "Waktu berjalan tanpa kami sadari. Baru setelah malam kami terbangun dan melakukan tugas."

"Maksudnya, membuat onar!" kataku.

Mereka mengangguk.

"Tapi kami ingin bebas," Hap meneruskan. "Kami ingin bisa pergi ke mana pun kami mau. Kami ingin tinggal di tempat yang kami pilih sendiri. Kami ingin mencari hutan lain tempat kami bisa hidup bebas." Dua butir air mata kurcaci mengalir di pipinya yang gemuk.

Chip menghela napas dan menatapku. "Maukah kalian membantu kami?"

"Membantu apa?" tanyaku.

"Membantu kami dan teman-teman kami melarikan diri," jawab Chip.

"Masih ada enam kawan kami," Hap menjelaskan. "Mereka disekap di ruang bawah tanah. Di Lawn Lovely. Kami butuh bantuan kalian untuk membebaskan mereka."

"sebetulnya kami bisa masuk lewat jendela ruang bawah tanah," sambung Chip. "Tapi kami terlalu pendek untuk memanjat keluar lagi. Dan terlalu pendek untuk meraih gagang pintu supaya bisa keluar .lewat pintu."

"Maukah kalian membantu kami melarikan diri?" Hap memohon sambil menarik-narik bajuku. "Kalian cuma perlu masuk lewat jendela. setelah itu kalian bantu keenam kawan kami keluar lewat pintu."

"Tolonglah kami," Chip meratap, air matanya bercucuran. "setelah itu kami akan pergi.

Ke hutan yang lebat. Kami takkan pernah membuat onar lagi."

"Kedengarannya cukup menarik!" seru Mindy.

"Jadi kalian mau?" Hap memekik.

Mereka menarik-narik kami sambil berceloteh

"Bantulah kami! Bantulah kami!"

Moose, Mindy, dan aku berpandangan dengan gelisah.

Apa yang harus kami lakukan?

22

"BANTULAH kami! Bantulah kami!"

"Ayo, kita bantu mereka," ajak Moose, akhirnya bisa bicara lagi.

Aku berpaling pada Mindy. sebenarnya aku enggan meminta saran padanya, tapi bagaimanapun juga dialah yang tertua di antara kami. "Bagaimana menurutmu?"

Mindy menggigit bibir. "Hmm, kau tahu sendiri bahwa Buster paling tidak senang diikat," katanya. "Ia selalu ingin bebas. Kurasa semua makhluk berhak hidup bebas.

Termasuk kurcaci hiasan taman."

Aku kembali berpaling pada Chip dan Hap.

"Oke!" kataku. "Kami akan membantu kalian!"

"Oh, terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!"

Chip berseru-seru gembira. Saking senangnya ia melompat dan mengayunkan kedua kakinya, sehingga tumit sepatunya beradu. "Ayo! Cepat!"

"sekarang?" Mindy memekik. "sekarang sudah tengah malam! Apa tidak bisa ditunda sampai besok?"

"Tidak. Ayo, sekarang," Hap berkeras.

"Selagi gelap," Chip menambahkan. "Selagi tokonya tutup. Ayo. Kita harus cepat-cepat."

"Aku belum berpakaian," sahut Mindy: "Dan kurasa kita tidak bisa pergi sekarang.

Kurasa..."

"Kalau kalian tidak berangkat sekarang juga, kami terpaksa membuat onar lagi" Chip berkata sambil mengedipkan mata.

Aku tentu saja keberatan. "Ayo, kita berangkat sekarang saja!" ujarku.

Maka kami berlima menyusuri jalan yang gelap, mendaki bukit ke Lawn Lovely. Wow, rasanya aneh sekali! Berjalan-jalan di tengah malam buta bersama sepasang hiasan taman! Dan kami berniat menyusup ke toko untuk membebaskan enam hiasan taman lainnya!

Pada siang hari pun, rumah tua berwarna pink itu sudah cukup aneh. Tapi malam-malam begini kesannya benar-benar seram. Semua hiasan taman menatap kami dengan pandangan kosong dalam kegelapan malam. Rusa, anjing laut, dan kawanan flamingo.

Jangan-jangan mereka sebenarnya juga hidup? aku bertanya-tanya.

Pikiranku itu seakan-akan terbaca oleh Hap. "Mereka cuma hiasan," katanya mencibir.

Kedua kurcaci langsung melintasi pekarangan depan yang lebar, lalu menyusuri bagian samping rumah Mrs. Anderson. Moose, Mindy dan aku mengikuti mereka.

Mindy berpegangan pada lenganku. Tangannya sedingin es. Kakiku juga masih gemetaran. Tapi jantungku berdegup-degup karena senang bukan karena ngeri.

Hap dan Chip menunjuk jendela rendah yang menuju ke ruang bawah tanah. Aku berlutut dan mengintip ke dalam. Keadaannya gelap gulita.

"Kalian yakin kawan-kawan kalian ada di bawah sana?" aku bertanya.

"Oh, ya," sahut Chip berapi-api. "Semuanya berenam. Mereka menunggu diselamatkan oleh kalian."

"Cepatlah," Hap memohon sambil mendorongku ke jendela. "Sebelum perempuan tua itu mendengar kita, dan bangun."

Aku menyelinap lewat jendela yang terbuka. Lalu berpaling pada Moose dan Mindy di belakangku.

"Kami segera menyusul," bisik Moose.

"Cepat selamatkan mereka," Mindy mendesak, "biar kita bisa segera pergi dari sini."

"Oke, bersiap-siaplah," ujarku pelan-pelan.

Aku menyilangkan jari dan merosot ke dalam kegelapan.



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen judi online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online