Chapter 11
"APA
maksudmu?" Mr. McCall bertanya dengan nada mendesak.
"Ya,
Mindy, apa yang kaumaksud?" Mom menimpali.
"Semalam
aku melihat Joe menyelinap keluar," jawab Mindy. "Tengah malam buta.
Ia bilang mau menyikat habis semua melon yang masih tersisa."
Semua
menatapku sambil membelalakkan mata. Termasuk Moose, sahabat karibku.
Wajah Mr.
McCall sudah semerah tomat. Tangannya dikepal-kepal berulang kali.
Mereka
menatapku seakan tidak percaya. Wajah-wajah tersenyum pada keempat melon pun
seolah memandang ke arahku.
"Tapi-tapi-tapi..."
aku tergagap-gagap.
Sebelum aku
sempat menjelaskan duduk perkaranya, Dad sudah meledak. "Joe, kau harus
menjelaskan persoalan ini. Kenapa kau menyelinap keluar di tengah malam
buta?"
Wajahku
terasa panas karena marah. "Aku keluar untuk menenangkan Buster,"
ujarku tegas. "Ia melolong terus. Melon-melon itu sama sekali tidak
kusentuh. Mana mungkin aku berbuat begitu Aku cuma bercanda waktu aku bilang
pada Mindy bahwa semuanya mau kusikat habis!"
"Tapi
ini tidak lucu!" Dad berseru dengan geram. "Kau dihukum tidak boleh
keluar main selama satu minggu."
"Tapi,
Dad..." aku berusaha membela diri. "Bukan aku yang membuat
gambar-gambar itu!"
"Tambah
satu minggu lagi!" katanya ketus. "Dan sudah sepantasnya kau memotong
rumput dan menyiram tanaman di pekarangan Mr. McCall selama satu bulan.
Anggaplah sebagai permintaan maaf."
"Tunggu
dulu, Jeffrey,” Mr. McCall memotong. "Aku tidak mau anakmu apalagi
anjingmu-menginjak pekaranganku lagi. Sampai kapan pun."
Ia
menggosok-gosok salah satu melon casaba dengan telunjuknya yang besar untuk
menghilangkan corat-coret hitam. "Mudah-mudahan bisa hilang. Sebab kalau
tidak, Jeffrey urusan ini akan kubawa ke pengadilan. Dan percayalah, aku tidak
main-main!"
Dua jam
setelah musibah melon, aku berbaring di lantai kamarku. Aku dihukum tidak boleh
keluar. Sementara di rumah tak ada yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu.
Aku tidak
bisa bermain dengan Buster di luar, soalnya tukang-tukang cat sudah mulai
bekerja.
Jadi aku
cuma duduk di kamar dan membaca ulang semua buku komik Super Gamma Man.
Aku memesan
gumpalan muntah palsu yang terbuat dari karet. Harganya lima dolar di katalog
Joker's Wild. Itu menghabiskan hampir seluruh uang saku mingguanku. Setelah itu
aku menyusup ke kamar Mindy, mengacak-acak isi lemari pakaiannya. Jadi, tak ada
lagi pakaian yang tersusun menurut warna pelangi.
Ketika
selesai, ternyata waktu makan siang belum juga tiba.
Huh, hari
ini betul-betul membosankan pikirku sambil turun ke lantai dasar.
"Tolong
ambilkan cat yang kuning," suara Mindy terdengar dari ruang baca.
Aku
mengendap-endap dan mengintip. Mindy dan sahabatnya, Heidi, duduk bersila di
lantai. Mereka sedang menghias T-shirt dengan cat khusus untuk tekstil.
Heidi hampir
sama menjengkelkan seperti Mindy. Selalu saja ada yang tidak beres baginya.
Kalau udara tidak terlalu dingin, ya menurutnya terlalu panas. Atau perutnya
sakit. Atau ikatan tali sepatunya terlalu kencang.
Tanpa
bersuara aku memperhatikan mereka bekerja. Heidi menggambar kalung perak pada
leher kucing ungu yang besar.
Mindy
membungkuk, penuh konsentrasi. Dengan hati-hati ia menggambar sekuntum bunga
kuning.
Aku melompat
maju! "Buuuuu!" teriakku.
"Yaiiiii!"
Heidi memekik.
Mindy
langsung berdiri, dan celana pendek merahnya langsung berlepotan cat kuning.
"Brengsek!"
jeritnya. "Coba lihat apa yang kau lakukan!"
Dikorek-koreknya
percikkan cat itu dengan kuku.
"Pergi
sana, Joe," ia mengusirku. "Kami lagi sibuk."
"Aku
tidak sibuk" sahutku. "Berkat dirimu, Tukang Ngadu."
"Salahmu
sendiri, kenapa iseng menggambari melon-melon Mr. McCall," katanya ketus.
Ia
menghitung bukti-bukti dengan jari sebelah tangan. "Kau bangun di tengah
malam buta. Kau keluar rumah. Dan kau bilang mau menyikat habis melon-melon
itu."
"Aku
cuma bercanda!" seruku. "Kau tidak punya selera humor, ya? Makanya,
jangan sok serius."
Heidi
meregangkan kedua tangannya. "Huh, panasnya. Bagaimana kalau kita berenang
dulu? Nanti saja kita selesaikan baju-baju ini."
Mindy
menoleh ke arahku. "Joe, kau mau ikut berenang?" tanyanya dengan
manis. "Oh.
Aku lupa.
Kau kan lagi dihukum." Lalu ia tertawa terbahak-bahak.
Aku
berbalik, meninggalkan mereka di ruang baca. Aku harus keluar dari rumah ini,
pikirku.
Aku menuju
ke dapur. Mom dan salah satu tukang cat sedang duduk di meja makan membahas
contoh-contoh warna.
"Kami
minta warna hitam mengilap untuk bagian tepi. Bukan hitam pekat," katanya
sambil menunjuk-nunjuk. "Menurut saya, Anda keliru membawa cat."
Aku
menarik-narik lengan bajunya. "Mom, Buster sudah bosan diikat terus. Apa
aku boleh mengajaknya jalan-jalan?"
"Tentu
saja tidak," Mom langsung menyahut. "Kau kan lagi dihukum."
"Mom,"
aku merengek. "Buster perlu diajak jalan-jalan. . Lagi pula bau cat di
sini bikin aku mual," aku menambahkan sambil memegangi perut.
Si tukang
cat kelihatan tidak sabar. "Oke, oke," ujar Mom. "Kau boleh
mengajak Buster."
"Asyik!
Thanks, Mom!" seruku. Aku berlari melintasi dapur dan keluar ke pekarangan
belakang.
"Ada
kabar gembira, Buster!" ujarku penuh semangat. "Kita bebas!"
Buster
menggoyang-goyangkan ekornya yang pendek. Kulepaskan tali yang panjang, dan
memasang rantai pendek ke ikat lehernya.
Kami sudah
berjalan kira-kira tiga kilometer ketika sampai di Buttermilk Pond. Tepi kolam
itu tempat yang paling asyik untuk bermain kejar tongkat.
Kulemparkan
tongkat kayu ke air. Buster langsung terjun ke kolam dan mengambilnya.
Kami
melakukan permainan itu berulang-ulang sampai pukul tiga sore. Waktunya pulang.
Dalam
perjalanan pulang kami mampir di Creamy Cow. Di situ dijual es krim yang paling
enak di seluruh kota.
Kuhabiskan
sisa uang sakuku untuk membeli dua cone es krim double-dip chocolate-chip.
Buster melahap es krimnya tapi membiarkan semua serpihan cokelat jatuh ke
tanah.
Sehabis
makan es krim kami meneruskan perjalanan. Buster menarik-narik rantai ketika
kami membelok dari trotoar. Sepertinya ia senang sekali sampai di rumah.
Ia menarikku
ke pekarangan depan dan mengendus-endus berbagai hiasan taman. Semak-semak.
Kawanan flamingo. Rusa. Kedua kurcaci.
Kedua
kurcaci.
Tampaknya
ada yang berbeda. Cuma apa, ya? Kulepaskan rantai Buster dan membungkuk untuk
memeriksa dari dekat.
Kuamati
tangan keduanya. Apa itu yang berwarna gelap di ujung jari mereka? Tanah?
Segera
kugosok-gosok jari-jemari mereka. Tapi noda itu tak mau hilang.
Hmm, rupanya
bukan tanah.
Aku
membungkuk lebih dekat lagi. Ternyata cat. Cat hitam.
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu
online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di
agen judi online dan daftar menjadi
member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus.
Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan
menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar