Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 18

Chapter 18


MOBIL Jeep kuning Mr. McCall berlepotan cat putih! Atapnya! Kap mesinnya!

Jendelanya! Seluruh mobil itu berlumuran cat.

Aku langsung tahu bakal ada masalah besar.

Cepat-cepat kupakai celana jeans dan T-shirt-ku yang kemarin. Lalu bergegas keluar.

Moose sudah ada di depan garasi. Tampangnya tegang sekali. Ia mengelilingi mobil sambil geleng-geleng kepala.

"Gila, hmm?" katanya, berpaling padaku. "Ayahku langsung mengamuk melihat ini!"

"Kenapa ia tidak parkir di garasi?" tanyaku. Mr. McCall biasa memarkir Jeep-nya di garasi mereka.

Moose angkat bahu. "Ibuku baru saja membereskan ruang bawah tanah dan gudang di bawah atap. Barang-barang yang sudah tidak terpakai, akan dijualnya. Mungkin ada sejuta kardus yang ia letakkan di garasi. Jadi ayahku terpaksa parkir di luar semalam."

Moose menepuk-nepuk atap Jeep. "Catnya masih basah. Coba pegang."

Aku menyentuhnya. Cat itu lengket di tanganku.

"Ayahku marah sekali," ujar Moose. "Mula-mula ia pikir ini perbuatan ayahmu, yang membalas dendam gara-gara urusan tomat semalam. Tapi ibuku bilang itu tidak masuk akal. Jadi ayahku menelepon polisi. Ia bilang ia takkan diam sebelum orang yang melakukan perbuatan ini masuk penjara."

"Ia bilang begitu?" tanyaku. Mulutku mendadak kering. "Moose, begitu polisi mulai mengusut peristiwa ini, yang dituduh adalah kau dan aku!"

"Kita? Yang benar saja? Kenapa mereka menuduh kita?"

"Soalnya kita sama-sama ada di luar semalam!" sahutku. "Dan semua orang tahu!"

Moose langsung ketakutan. "Wah, benar juga," katanya. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Aku sendiri tidak tahu," sahutku lesu. Sambil berpikir keras aku mondar-mandir di depan garasi Moose. Aspal di bawah kakiku yang telanjang terasa hangat dan lengket.

Aku pindah ke bagian yang ditumbuhi rumput. Dan di situ kulihat tetes-tetes cat putih yang membentuk garis.

"Hei, apa ini?" seruku.

Jejak itu ku ikuti melintasi rumput. Melewati bunga-bunga petunia. Sampai ke pojok pekaranganku.

Tetes-tetes cat itu berakhir di tempat kedua kurcaci berdiri sambil nyengir.

"Apa kubilang! Apa kubilang!" aku berseru-seru. "Moose, coba lihat jejak ini. Kurcaci-kurcaci ini yang mencorat-coret mobil kalian. Mereka yang membuat kekacauan di sini."

"K-kurcaci hiasan taman?" Moose tergagap-gagap. "Sudah deh, Joe. Mana ada yang percaya? Jangan mengada-ada."

"Tapi coba lihat bukti-buktinya!" aku mendesak. "Biji melon di bibir si kurcaci. Tetes-tetes cat putih. Aku bahkan sempat melihat cat hitam di jari mereka. Persis setelah ayahmu menemukan gambar wajah tersenyum di melon casaba-nya!"

"Aneh," Moose bergumam. "Ini benar-benar aneh. Tapi kurcaci-kurcaci ini cuma hiasan taman, Joe. Mereka tidak mungkin mondar-mandir berbuat iseng."

"Bagaimana kalau aku bisa membuktikan bahwa mereka yang bersalah?"

"Hah? Bagaimana caranya?"

"Kita harus menangkap basah mereka," sahutku.

"Hah? Ini tidak masuk akal, Joe."

"Ayo, Moose. Nanti malam kita pasang jebakan. Kita keluar diam-diam, terus kita sembunyi di samping rumah, mengawasi mereka."

Moose menggelengkan kepala. "Sori," katanya. "Aku sudah kenyang dimarahi gara-gara kejadian semalam "

"Itu belum apa-apa ketimbang yang bakal terjadi kalau polisi sudah mulai mengusut kejadian ini."

Aku melirik ke mobilnya.

"Oke. Oke. Aku ikut. Tapi aku yakin kita cuma buang-buang waktu."

"Kurcaci-kurcaci itu akan kita jebak, Moose," ujar-ku dengan geram. "Biarpun kita harus begadang semalam suntuk."

Ahhh!

Wekerku! Wekerku tidak bunyi!

Dan sekarang sudah hampir tengah malam. Aku terlambat. Aku sudah janji bertemu Moose di luar, pukul setengah dua belas tepat.

Serta merta aku melompat dari tempat tidur. Aku masih memakai jeans dan T-shirt.

Terburu-buru kusambar sepatu ketsku lalu berlari keluar.

Tak ada bulan. Tak ada bintang. Pekarangan depan terselubung kegelapan yang hitam pekat.

Suasananya hening. Terlalu hening.

Aku memandang berkeliling, mencari-cari Moose. Tapi sosoknya tidak kelihatan.

Mungkin ia sudah masuk lagi karena terlalu lama menungguku.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Tinggal sendirian di luar? Atau kembali ke tempat tidur?

Semak-semak di dekatku berdesir. Aku menahan napas.

"Joe. Joe. Sebelah sini," Moose berseru dengan suara tertahan.

Kepalanya menyembul dari balik semak-semak di depan rumahku. Ia melambai-lambaikan tangan.

Aku segera menghampirinya.

Moose menonjok lenganku. "Kupikir kau tidak berani keluar."

"Enak saja," sahutku. "Kan aku yang punya ide ini!”

"Yeah, ide gila," balas Moose. "Coba pikir, kita bersembunyi di balik semak-semak. Di tengah malam buta. Untuk mengintai hiasan taman."

"Aku tahu kedengarannya tidak masuk akal, tapi..”

"Sst. Bunyi apa itu?" ia memotong.

Aku juga mendengarnya. Bunyi gesekan.

Aku menjulurkan tubuh, membelah ranting-ranting berdaun lebat yang menghalangi pandanganku. Tangan dan lenganku tertusuk duri. Cepat-cepat kutarik tanganku. Darah menetes dari luka di ujung jariku.

Bunyi itu semakin dekat.

Jantungku mulai berdegup kencang.

Moose dan aku saling merapat. Kami bertukar pandang. Kurasa ia sama ngerinya denganku.

Tapi aku harus mengintip. Aku harus tahu dari mana bunyi itu berasal.

Sekali lagi kubelah ranting-ranting di hadapan kami. Dan mengintip lewat sela daun-daun. Sepasang mata menyala membalas tatapanku!

"Tangkap dia, Moose! Tangkap!" aku memekik.

Moose langsung menerjang maju-dan melihat sosok gelap berlari menjauh.

"Berang-berang! Ya ampun, ternyata cuma berang-berang..."

Aku menghela napas. "Sori, Moose."

Kami kembali menunggu. Setiap beberapa menit kami membelah ranting-ranting untuk mengintai kedua kurcaci. Lenganku sudah penuh luka goresan.

Tapi Chip dan Hap tidak beranjak sedikit pun. Keduanya tetap berdiri di tempat semula sambil nyengir lebar.

Aku mengerang. Kakiku kaku dan mulai kram.

Moose melirik arlojinya. "Sudah lebih dari dua jam kita di sini," bisiknya. "Kurcaci-kurcaci itu sama sekali tak bergerak. Aku mau pulang saja."

"Sebentar lagi, deh," aku memohon. "Kita akan menangkap mereka. Aku yakin kita akan berhasil."

"Kau betul-betul teman yang baik," kata Moose sambil membelah semak-semak untuk kesejuta kali.

"Sebenarnya aku tidak tega bilang begini, Joe, tapi kau benar-benar sinting dan..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Mulutnya menganga lebar, matanya nyaris copot dari kepalanya.

Aku ikut mengintip-dan melihat kedua kurcaci mulai bergerak. Mereka meregangkan tangan ke atas. Mengusap-usap dagu.

Mereka menggoyang-goyangkan kaki. Lalu merapikan baju masing-masing.

"M-mereka bergerak!" seru Moose.

Seruannya terlalu keras.

Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tengah semak-semak.

Sekarang mereka tahu kami sedang mengintip, pikirku.

Selanjutnya apa yang akan terjadi?



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online