Chapter 17
"JOE
kau benar! Hap dan Chip tidak ada!"
Ia percaya!
Akhirnya ia percaya padaku! Aku langsung berdiri dan mengacungkan tinju.
"Yes!"
Dad menyapu
kaca jendela yang berembun dengan lengan piama, lalu kembali memandang ke luar.
"Betul
kan, Dad! Betul kan!" seruku gembira. "Aku tidak bohong. Aku tidak
bercanda."
"Hmmm.
Deer-lilah juga tidak kelihatan," ujarnya pelan.
"Apa?"
aku memekik. Perutku serasa diaduk-aduk. "Ia ada di situ, kok! Tadi aku
masih melihatnya!"
"Tunggu
sebentar," Dad bergumam. "Ahhh. Itu dia. Tadi dia tertutup kabut. Dan
kurcacinya! Itu mereka! Mereka masih ada! Mereka juga tertutup kabut. Lihat,
tuh!"
Aku
memandang ke luar jendela. Dua topi runcing menyembul dari balik kabut. Kedua
kurcaci itu berdiri di tempat semula, di samping rusa.
"Aduuuuh!"
aku mengerang. "Mereka tidak ada tadi. Aku tidak bercanda, Dad Aku
serius!"
"Kabut
memang bisa menipu pandangan kita" Dad menjelaskan. "Suatu hari aku
pernah naik mobil di tengah kabut yang amat tebal. Tiba-tiba aku melihat
sesuatu di depan.
Berbentuk
bulat mengilap. Kelihatannya seperti melayang-layang di udara. Ya ampun,
pikirku saat itu. Ada UFO! Piring terbang! Aku sendiri hampir tidak
percaya!"
Ia
menepuk-nepuk pundakku. "Nah, UFO yang kulihat ternyata cuma balon perak
yang diikat ke tiang lampu. Oke, Joe. Kembali ke soal kurcaci," tampang
Dad berubah jadi serius, "aku tidak mau mendengar cerita konyol lagi.
Kurcaci-kurcaci itu cuma hiasan taman. Cuma itu. Oke. Jangan
kausinggung-singgung lagi. Janji?"
Aku tidak
punya pilihan. "Aku berjanji," ujarku sambil menundukkan kepala.
Lalu aku
naik ke kamarku.
Aku telah
mengalami satu hari-plus satu malam-yang betul-betul brengsek. Dad menganggapku
pembohong. Tomat-tomat kami hancur. Dan Moose tak boleh lagi bermain denganku.
Lengkaplah sudah penderitaanku. Takkan ada yang lebih buruk dari ini.
Perasaanku
tidak enak ketika aku terbangun keesokan pagi. Perutku terasa berat, seolah aku
baru saja makan semangkuk semen. Kurcaci-kurcaci itu tak bisa kusingkirkan dari
pikiranku.
Mereka telah
merusak liburan musim panasku. Mereka telah merusak seluruh hidupku!
Lupakan
mereka, Joe, kataku dalam hati. Lupakan mereka.
Aku agak
terhibur karena yakin hari ini pasti lebih baik dan kemarin. Tak mungkin ada
yang lebih parah dari yang kualami kemarin.
Aku
memandang ke luar jendela kamarku. Kabut semalam tak tersisa sedikit pun,
matahari bersinar cerah dan hangat. Buster masih tidur di rumput. Tali
pengikatnya yang panjang meliuk-liuk di pekarangan.
Aku melirik
ke rumah keluarga McCall. Barangkali Moose sedang membantu ayahnya di kebun,
pikirku.
Aku melongok
dari jendela supaya bisa melihat lebih jelas.
"Oh, ya
ampun!" aku mengerang. "Kok jadi begini?"
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu
online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di
agen judi online dan daftar menjadi
member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus.
Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan
menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar