Chapter 19
OH!
Bagaimana ini? Bagaimana ini?" bisik Moose dengan panik. Ia menarikku
berdiri.
"Mereka..
mereka benar-benar bergerak!"
Moose dan
aku mengamati Hap dan Chip dari balik semak-semak. Kami sama-sama membelalakkan
mata karena ngeri.
Kedua
kurcaci itu menekuk lutut, lalu kembali berdiri tegak. Kemudian mereka mulai
melangkah dengan kaku. Satu langkah. Dua langkah.
Ternyata aku
benar. Mereka memang hidup, pikirku.
Dan sekarang
mereka hendak menangkap Moose dan aku.
Kami harus
lari! kataku dalam hati. Kami harus kabur dari sini!
Tapi Moose
dan aku tidak bisa melepaskan pandangan dari kedua kurcaci ajaib itu!
Bulan
tiba-tiba muncul di atas pepohonan. Pekarangan depan menjadi terang, seakan ada
yang menyalakan lampu. Kedua sosok buncit itu mengayunkan tangan mereka yang
pendek gemuk dan mulai berlari. Tangan mereka membelah udara seperti sirip hiu
membelah air.
Mereka
bergegas ke arah kami. Moose dan aku langsung berlutut dan mencoba bersembunyi.
Tubuhku gemetar. Saking kerasnya, semak-semak di hadapan kami ikut bergetar!
Kedua
kurcaci semakin dekat. Begitu dekat sampai aku bisa melihat mata mereka yang
menyala merah dan gigi mereka yang putih mengilap.
Kukepalkan
tanganku hingga terasa pegal.
Apa yang
akan mereka lakukan terhadap kami?
Aku
memejamkan mata-dan mendengar mereka berlari melewati tempat kami bersembunyi.
Langkah mereka berdebam-debam. Napas mereka mendesis-desis.
Aku membuka
mata dan melihat mereka berlari menyusuri jalan setapak di samping rumah.
"Moose-mereka
tidak melihat kita!" aku berbisik lega.
Kami saling
membantu berdiri. Kepalaku pening. Tanah di bawah kakiku seakan-akan oleng.
Kakiku terasa lembek seperti agar-agar.
Moose
mengusap alisnya yang basah karena keringat. "Mau ke mana mereka?"
bisiknya.
Aku
menggelengkan ke.pala. "Entahlah. Tapi kita harus mengikuti mereka.
Ayo!"
Kami saling
mengacungkan jempol dan keluar dari tempat persembunyian. Aku berjalan di
depan. Kami menyusuri jalan setapak, bergegas melewati beranda, menuju ke
bagian samping rumahku
Aku berhenti
ketika mendengar suara bisik-bisik parau. Persis di depan kami.
Moose meraih
pundakku. Matanya terbelalak lebar. "Aku mau pulang saja. Sekarang
juga!"
Aku
berbalik. "Jangan! Kau harus tetap di sini dan membantuku menangkap
mereka. Kita harus memberi tahu orang tua kita siapa biang keladi
sesungguhnya."
Moose
menghela napas. Aku merasa lebih enak setelah tahu bahwa anak sebesar Moose
ternyata juga bisa takut seperti aku. Akhirnya ia mengangguk. "Oke. Ayo,
kita tangkap mereka."
Kami
mengendap-endap dalam bayang-bayang rumah, menuju ke pekarangan belakang.
Aku. melihat
Buster sedang tidur lelap di samping rumah-rumahannya di tengah pekarangan.
Dan kemudian
kulihat kedua kurcaci. Mereka berdiri di depan tumpukan cat dan kuas yang
ditinggalkan para tukang cat di samping garasi.
Moose dan
aku mundur ketika Hap dan Chip mengambil dua kaleng cat hitam. Mereka membuka
kaleng-kaleng itu dengan jari mereka yang gemuk.
Sambil
tertawa cekikikan, kedua kurcaci mengambil ancang-ancang dan menyiramkan cat ke
sisi rumahku. Dinding yang baru dicat putih itu langsung berlumuran cat hitam.
Cepat-cepat
aku menutup mulut dengan sebelah tangan, supaya tidak berteriak Apa kataku. Sejak
awal aku sudah tahu. Tapi tak ada yang mau percaya padaku. Kurcaci-kurcaci
itulah biang keladi semua kekacauan di sini Mereka kembali ke tumpukan untuk
mengambil cat lagi "Kita harus menghentikan mereka" bisikku pada
Moose. "Tapi bagaimana caranya?"
"Kenapa
tidak kita sergap saja? Kita sergap mereka dari belakang, terus kita
duduki."
Kedengarannya
mudah. Badan mereka kan kecil. Lebih kecil dari kami. "Oke," bisikku
dengan gugup. "Setelah itu kita seret mereka ke dalam rumah, dan kita
tunjukkan pada orang tuaku."
Aku menarik
napas panjang dan menahannya. Lalu bersama Moose beringsut-ingsut maju.
Sedikit demi
sedikit.
Kalau saja
kakiku tidak gemetar begitu keras!
Lebih dekat
lagi.
Lalu aku
melihat Moose jatuh.
Ia jatuh ke
depan dan menghantam tanah dengan suara berdebam sambil memekik,
"Aduuuh'"
Baru aku
sadar bahwa kakinya tersandung tali pengikat Buster.
Cepat-cepat
ia bangkit. Tapi kakinya terlilit tali. Diraihnya tali itu dengan kedua tangan,
dan ditariknya keras-keras.
Gerakan itu
membangunkan Buster!
"Guk!
Guk! Gukgukguk!" Rupanya Buster melihat kedua kurcaci itu, sebab ia
langsung menyalak sekeras-kerasnya.
Hap dan Chip
berbalik.
Dan menatap
kami dengan mata mereka yang merah. Dalam cahaya bulan yang terang, wajah
mereka tampak mengerikan.
"Tangkap
mereka!" Chip menggeram. "Jangan biarkan mereka lolos!"
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu
online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di
agen judi online dan daftar menjadi
member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus.
Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan
menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar