Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 16

Chapter 16


TAWA bengis itu terdengar kembali ketika aku tergeletak di rumput.


Tapi kali ini aku mengenalinya.

"Moose?"

"Kau pasti sudah ketakutan setengah mati!" gumamnya. la membantuku berdiri. Di tengah kabut tebal pun aku bisa melihatnya nyengir lebar.

"Moose-kenapa kau ada di sini?" seruku dengan heran.

"Aku tidak bisa tidur. Sepertinya aku terus mendengar suara-suara aneh. Lalu kubuka jendela kamar tidurku - dan aku melihatmu. Kau sedang apa sih, Joe? Mau bikin masalah lagi?"

Kutepis rumput basah yang menempel di tanganku. "Bukan aku yang bikin masalah," ujarku.

"Kau harus percaya. Lihat tuh-kedua kurcaci-mereka hilang."

Aku menunjuk ke arah rusa. Moose segera melihat bahwa Hap dan Chip tidak ada di tempat seharusnya

Lama ia memandang tanpa berkedip. "Ini pasti lelucon konyol lagi - ya, kan?"

"Bukan. Ini sungguh-sungguh. Aku harus menemukan mereka."

Moose menatapku sambil mengerutkan kening. "Kau apakan mereka? Kausembunyikan, ya? Di mana mereka? Ayo, mengaku saja!"

"Aku tidak menyembunyikan mereka."

"Cepat, bilang saja," ia mendesak sambil merapatkan wajahnya ke wajahku. "Atau kau ingin merasakan Sepuluh Siksaan dariku?"

Moose mendorong dadaku dengan tangannya yang besar. Aku jatuh, kembali tergeletak di rumput yang basah. Moose langsung menduduki perutku dan menahan lenganku dengan sikunya.

"Ayo, buka mulut!" ia mengancam. "Katakan di mana mereka!" Lalu ia mulai bergoyang-goyang.

"Berhenti!" ujarku sambil terengah. "Sudah, berhenti!"

Ia berhenti karena lampu mendadak menyala di rumah kami.

"Wah, gawat," bisikku. "Kita bakal dimarahi habis-habisan."

Aku mendengar pintu rumahku membuka. Disusul kemudian pintu rumah Moose.

Moose dan aku terdiam. "Jangan ribut," bisikku.

"Barangkali mereka tidak melihat kita."

"Siapa itu?" Dad memanggil dari beranda.

"Ada apa ini, Jeffrey?" kudengar Mr. McCall berseru. "Siapa yang ribut-ribut di luar?"

"Entahlah," sahut Dad. "Tadinya kupikir si Joe..."

Uh, selamat, pikirku. Kami terlindung oleh kabut.

Kemudian aku mendengar bunyi klik. Berkas sinar senter yang panjang dan sempit menyapu pekarangan. Lalu berhenti ketika menerangi Moose dan aku.

"Joe!" teriak Dad. "Sedang apa kau di situ? Kenapa kau tidak menjawab tadi?"

"Moose!" Mr. McCall berseru dengan geram.

"Ayo, masuk! Cepat!"

Moose berdiri dan berlari ke rumahnya. Untuk kedua kalinya malam itu aku bangkit dari rumput yang basah. Pelan-pelan aku masuk ke rumah.

Dad menyilangkan tangan di depan dada. "Dua kali dalam semalam kau membangunkan kami! Dan kau berkeliaran di luar saat tengah malam. Ada apa sih denganmu?"

"Begini, Dad, aku keluar cuma karena kurcaci-kurcaci itu hilang. Coba lihat sendiri," aku memohon.

Dad menatapku sambil memicingkan mata. "Aku sudah capek mendengar cerita-cerita kurcaci ini!" hardiknya. "Ini sudah kelewatan! Cepat naik ke kamarmu. Sebelum kau kuhukum sampai akhir musim panas!"

"Aduh, Dad. Aku tidak mengada-ada. Coba lihat dulu, deh," aku merengek. "Coba deh, Coba."

Lalu aku menambahkan, "Aku takkan minta apa-apa lagi setelah ini."

Kelihatannya janji itu berhasil meyakinkannya.

"Oke," ia berkata sambil mendesah. "Tapi kalau ini lelucon lagi..."

Dad menghampiri jendela ruang duduk dan memandang ke luar.

Semoga kurcaci-kurcaci itu masih hilang! aku berdoa dalam hati. Semoga Dad tahu bahwa aku tidak mengarang-ngarang cerita. Semoga...



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online