Chapter 14
TERNYATA
tidak ada apa-apa.
Tak ada sari
tomat.
Tak ada
daging buah.
Tak ada
biji. Tak satu pun.
Kuperiksa
seluruh tubuh kedua kurcaci Perasaanku kacau-balau. Dari wajah mereka yang
nyengir jelek sampai ke kaki mereka yang kecil.
Tak ada
apa-apa. Sama sekali.
Bagaimana
mungkin aku keliru? Perutku serasa diaduk-aduk ketika aku berbalik menghadap
Dad.
"Dad..."
suaraku bergetar.
Ia segera
memotongku dengan lambaian tangan.
"Tak
ada yang perlu dilihat di sini, Joe," gumamnya. "Dan mulai sekarang
aku tak mau dengar cerita kurcaci lagi. Mengerti? Aku sudah bosan."
Matanya yang
cokelat menyala-nyala karena marah. "Aku tahu siapa yang bertanggung
jawab!" katanya dengan getir. "Dan ia tidak bakal lolos begitu
saja!"
Seketika ia
berbalik, menuju ke pekarangan belakang. Dipungutnya sepotong tomat yang sudah
hancur. Air menetes-netes dari sela jarinya ketika ia kembali ke depan dan
bergegas ke rumah Mr. McCall.
Aku
mengamati Dad berhenti di depan pintu keluarga McCall, dan menekan bel.
Sebelum
pintu terbuka, ia sudah berteriak-teriak. "Hei, Bill! Cepat keluar kau!
Sekarang juga!"
Aku terus
mengamati. Seumur hidup aku belum pernah melihatnya semarah ini.
Terdengar
bunyi kunci diputar. Pintu membuka. Lalu muncullah Mr. McCall, mengenakan baju
joging putih, menggenggam iga sapi yang tengah dimakannya.
"Jeffrey,
ada apa, sih? Ribut-ribut begini, bikin pencernaanku terganggu saja." Ia
tertawa sendiri.
"Hah,
coba kaucerna ini!" teriak Dad. Dia mengayunkan tangan dan melemparkan
tomatnya.
Tomat itu
menghantam T-shirt Mr. McCall yang putih, menetes-netes ke celananya.
Bahkan
menetes ke sepatunya yang putih bersih.
Dengan
terbengong-bengong Mr. McCall menatap bajunya. "Kau sudah gila?"
serunya lantang.
"Bukan
aku, tapi KAU!" teriak Dad. "Bisa-bisanya kau berbuat begini? Cuma
demi kejuaraan yang konyol!"
"Apa
maksudmu?"
"Oh,
kau pura-pura bodoh, ya. Kau berlagak tidak tahu apa-apa. Hah, pokoknya urusan
ini takkan kubiarkan begitu saja."
Mr. McCall
melangkah maju dan berdiri persis di depan Dad. Sambil bertolak pinggang ia
membusungkan dadanya yang bidang.
"Aku
tidak menyentuh sama sekali tomatmu yang brengsek itu!" teriaknya dengan
suara menggelegar. "Berani-beraninya kau menuduhku! Jangan-jangan tomatmu
yang menang tahun lalu sebenarnya kau beli!"
Dad
mengacung-acungkan kepalan tinju di depan hidung Mr. McCall. "Tomatku
memang yang terbaik di pameran itu! Tomatmu kelihatan seperti kismis
dibandingkan tomatku! Lagi pula, mana ada yang menanam casaba di Minnesota? Kau
bakal jadi bahan tertawaan di pameran nanti!"
Seluruh
tubuhku gemetar. Gawat, pikirku. Mereka bisa berkelahi kalau begini. Dan aku
yakin Dad bakal babak belur.
"Bahan
tertawaan?" Mr. McCall menggeram. “Kau yang patut ditertawakan. Kau dan
tomat-tomatmu yang masam. Dan hiasan tamanmu yang konyol! Pergilah sebelum aku
lupa diri!"
Mr. McCall
kembali ke pintu rumahnya, lalu berbalik dan berkata, "Mulai sekarang aku melarang
anakku bergaul dengan Joe! Paling-paling ia yang merusak tomatmu.. Kan ia juga
yang merusak melon-melonku!"
Ia melangkah
masuk dan membanting pintu. Saking kerasnya seluruh beranda depan ikut
bergetar.
Malam itu
aku tidak bisa tidur. Selama berjam-jam aku cuma berguling-guling di tempat
tidur
Melon-melon
bergambar wajah. Tomat-tomat yang remuk. Kurcaci-kurcaci yang berbisik. Semua
itu tak mau hilang dari benakku.
Aku melirik
weker. Sudah lewat tengah malam, tapi aku belum juga terlelap. Kurcaci-kurcaci
itu seakan menari-nari di depan mataku. Mereka tersenyum mengejek. Dan tertawa.
Menertawakan aku.
Tiba-tiba
kamarku terasa panas dan pengap. Kusingkirkan selimut tipis yang membungkus
kakiku. Tapi aku tetap saja kepanasan.
Aku melompat
turun dari tempat tidur dan melangkah menuju ke jendela. Langsung saja kubuka
jendela lebar-lebar. Udara hangat dan lembab mengalir masuk.
Kusandarkan
tangan ke ambang jendela dan kupandang kegelapan di luar. Kabut tebal
menyelubungi pekarangan depan. Meskipun sedang kepanasan aku merinding. Belum
pernah aku melihat kabut seperti ini.
Kabut
menipis sedikit. Samar-samar aku bisa melihat patung malaikat di pekarangan.
Patung
anjing. Dan keluarga sigung. Kawanan angsa. Bayangan berwarna pink-kawanan
flamingo.
Lalu aku
melihat Deer-lilah, si rusa.
Sendirian.
Tanpa teman.
Kedua
kurcaci telah lenyap.
Bagi anda yang berminat
dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link
situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka
anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan
fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar