Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 13

Chapter 13


PERLUKAH aku memberi tahu Mom dan Dad tentang kejadian tadi? aku bertanya-tanya ketika kami makan malam.


"Apa saja yang kalian kerjakan hari ini?" Dad bertanya dengan riang sambil mengambil kentang.

Mereka takkan percaya.

"Heidi dan aku naik sepeda ke kolam renang," jawab Mindy. Ia menyusun potongan ikan tuna panggang menjadi bujur sangkar yang rapi di piringnya. Kemudian ia menggeser kacang polong yang kesasar. "Tapi kaki Heidi kram, jadi kami lebih banyak berjemur saja."
Aku harus menceritakannya.

"Aku mendengar sesuatu yang aneh tadi sore," ujarku menyela. "Benar-benar aneh."

"Hei, aku belum selesai!" Mindy memprotes. Ia menyeka mulutnya dengan serbet.

"Tapi ini lebih penting!" seruku. Saking gugupnya, aku mulai merobek-robek serbet kertas. "Aku sedang di pekarangan depan, sendirian, ketika tiba-tiba ada yang berbisik-bisik."

Kurendahkan suaraku supaya parau dan berat.

"Suara-suara itu bilang, 'Tidak lueu, Joe. Tidak lucu.' Aku tidak tahu siapa yang ngomong. Selain aku, tidak ada siapa pun di sana. Tapi... ehm... sepertinya kurcaci-kurcaci itu, deh."

Mom langsung menaruh gelasnya ke meja. Keras sekali. "Aku tidak mau mendengar lelucon kurcaci lagi!" katanya. "Lelucon itu tidak lucu, Joe."

"Tapi ini benar!" seruku sambil meremas-remas serbet sampai berbentuk bola. "Mereka jelas-jelas berbisik. "

Mindy ketawa mengejek. "Huh, bosan," ujarnya. "Dad, tolong rotinya, dong."

"Silakan, Sayang," sahut Dad sambil menyerahkan baki kayu berisi potongan-potongan roti.

Setelah itu Mindy meneruskan ceritanya yang terpotong tadi.

Sehabis makan malam Dad mengajak kami menyiram tomat-tomatnya.

"Oke," kataku sambil angkat bahu. Sebenarnya aku tidak terlalu berminat, tapi yang penting aku bisa keluar rumah.

"Perlu kuambilkan Bug Be Gone?" tanyaku ketika kami melangkah keluar.

"Oh! Oh!" Dad mendadak memekik. Wajahnya langsung pucat pasi.

"Ada apa, Dad? Ada apa?"

Dia menunjuk tanaman-tanaman tomat di hadapan kami tanpa sanggup berkata-kata.

"Aduh " gumamku. "Kok bisa begini?"

Tomat-tomat kami yang merah dan ranum sudah gepeng, remuk, hancur lebur-biji dan daging buahnya yang merah berserakan di mana-mana.

Dad sampai terbengong-bengong. Dengan geram ia mengepal-ngepalkan tangan. "Ya ampun siapa yang tega berbuat begini?" gumamnya.

Jantungku langsung berdegup-degup.

Aku tahu apa yang telah terjadi. Dan sekarang semua orang pasti akan percaya.

"Pasti kurcaci-kurcaci itu, Dad!" Aku menarik lengan bajunya, mencoba menyeretnya ke pekarangan depan. "Aku punya bukti! Dad bisa lihat sendiri!"

"Joe, jangan tarik-tarik bajuku. Ini bukan waktu untuk bercanda. Tidak sadarkah kau, kita terpaksa batal ikut pameran perkebunan. Kita kehilangan kesempatan untuk memenangkan hadiah pertama! Oh, jangankan hadiah pertama, hadiah hiburan juga tak bakal kita dapa!."

"Dad harus percaya. Ayo, kita lihat ke sana!"

Aku tetap mencengkeram lengan bajunya. Sambil menariknya, aku bertanya-tanya apa yang akan kami temukan di situ.

Sari tomat berwarna merah darah mengotori wajah mereka yang jelek?

Daging buah melumuri tangan mereka?

Ratusan biji tomat menempel pada kaki mereka?

Kami menghampiri kedua kurcaci. Aku menatap mereka sambil memicingkan mata. Dan akhirnya kami berhenti di hadapan keduanya.

Dan aku seakan-akan tidak percaya pada mataku.



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen judi online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online