Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 15

Chapter 15


"MOM! Dad!" seruku. Terburu-buru aku berlari ke kamar mereka. "Bangun, Dad!


Bangun, Mom! Kurcacinya hilang!"

Mom langsung duduk tegak. "Ada apa? Apa yang hilang?"

Dad tidak bergerak sedikit pun.

"Kurcacinya!" aku berseru sambil mengguncang-guncangkan bahu Dad. "Bangun, Dad!"

Dad membuka sebelah mata, menatap sambil mengerutkan kening. "Jam berapa sekarang?" ia bergumam.

"Bangun, dong!" aku memohon.

Sambil mendesah Mom menyalakan lampu bacanya. "Joe. Ini sudah tengah malam.

Kenapa kau membangunkan kami?"

"Mereka-mereka kabur!" aku tergagap-gagap. "Hilang! Aku tidak bercanda. Aku serius."

Orang tuaku berpandangan, lalu menatapku dengan tajam. "Cukup!" seru Mom. "Kami sudah bosan mendengar lelucon-leluconmu. Apalagi tengah malam buta seperti sekarang.

Ayo, kembali ke kamarmu!"

"Sekarang juga!" Dad menimpali. "Kami sudah cukup sabar selama ini. Besok pagi kita akan bicara serius."

"Tapi-tapi-tapi..." aku tergagap-gagap.

"Kembali ke kamarmu!" seru Dad.

Pelan-pelan aku keluar dari kamar mereka.

Seharusnya sejak awal aku sudah tahu mereka takkan percaya. Tapi aku harus bisa meyakinkan seseorang.

Aku berlari menyusuri koridor yang gelap, menuju kamar Mindy. Ketika aku mendekati tempat tidurnya, aku mendengar suara mirip siulan, seperti biasa kalau ia tidur telentang.

Ia asyik bermimpi.

Sejenak aku menatapnya dengan bimbang. Perlukah aku membangunkannya? Apakah ia akan percaya?

Kutepuk-tepuk pipinya. "Mindy Bangun," bisikku.

Tak ada reaksi.

Sekali lagi kupanggil namanya. Sedikit lebih keras.

Dengan enggan Mindy membuka mata. "Joe?" ia bertanya dengan suara mengantuk.

"Bangun. Cepat!" bisikku dengan nada mendesak. "Kau harus lihat ini!"

"Lihat apa?" ia mengerang.

"Kurcaci. Kurcacinya hilang! Kurasa mereka kabur. Ayo, bangun! Cepat, dong!"

"Kurcaci?"

"Ayo, Mindy. Bangun. Ada keadaan darurat!"

Mata Mindy langsung terbelalak lebar. "Hah? Darurat? Apanya yang darurat?"

"Kurcacinya. Mereka hilang. Kau harus ikut keluar denganku."

"Itu yang kau bilang darurat?" ia memekik. "Yang benar saja! Aku tidak mau ikut denganmu. Kau sudah gila, Joe. Betul-betul gila."

“Tapi..”

"Sudah, jangan ganggu aku lagi. Aku mau tidur."

Dia memejamkan mata dan menarik selimut sampai menutupi kepala.

Aku berdiri di kamarnya yang hening dan gelap.

Tak ada yang mau percaya padaku. Tak ada yang mau ikut denganku. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Kubayangkan kurcaci-kurcaci itu mencabik-cabik semua tanaman di kebun kami.

Mencabut ubi jalar, meremukkan labu. Dan sebagai penutup, menginjak-injak melon Mr.

McCall yang masih tersisa!

Aku harus bertindak. Sekarang juga!

Aku berlari keluar dari kamar Mindy, bergegas menuruni tangga. Terburu-buru aku membuka pintu depan dan menghambur keluar.

Kabut tebal menyambutku.

Aku langsung tertelan kabut. Aku hampir tidak bisa melihat apa-apa. Semua kelihatan hitam dan kelabu. Penuh bayang-bayang. Tak ada apa pun selain bayangan-bayangan gelap.

Perlahan-lahan aku melangkah maju. Gerakanku -seperti sedang di bawah air.

Rumputnya begitu basah. Aku menunduk, tapi saking tebalnya kabut, kakiku sendiri tidak kelihatan.

Seperti dalam mimpi. Mimpi yang gelap dan menakutkan. Begitu sunyi. Begitu seram.

Jantungku berdegup-degup.

Aku kehilangan arah. Apakah aku sedang menuju ke jalanan?

"Ohhh!" aku memekik ketika ada sesuatu yang mencengkeram mata kakiku.

Dengan kalang-kabut aku mengayun-ayunkan kaki. Berusaha membebaskannya.

Tapi cengkeraman itu tak mau lepas.

Dan menarikku ke bawah.

Ke kegelapan yang berputar-putar.

Ularkah?

Bukan. Bukan ular. Ternyata cuma slang air. Slang air yang lupa kugulung lagi sehabis menyiram tanaman tadi malam.

Tenang, Joe, kataku dalam hati. Jangan panik.

Aku bangkit dan maju terhuyung-huyung. Kabut tebal sekali. Aku harus memicingkan mata agar bisa melihat lebih jelas. Sosok-sosok gelap seakan berusaha menjangkauku, menangkap tubuhku.

Rasanya aku ingin kembali saja. Masuk ke rumah. Dan naik ke tempat tidur yang hangat dan nyaman.

Ya. Itu yang harus kulakukan.

Perlahan-lahan aku membalik.

Saat itulah kudengar suara. Suara langkah. Di dekatku.

Aku pasang telinga.

Sekali lagi aku mendengarnya. Suara langkah ringan seolah melayang.

Napasku terengah-engah. Jantungku berdegup kencang. Kakiku yang telanjang dingin dan basah.

Aku merinding. Seluruh tubuhku gemetaran.

Sayup-sayup kudengar tawa terkekeh-kekeh. Salah satu Kurcaci?

Aku mencoba berbalik. Mencoba melihat dalam kegelapan yang pekat.

Tapi tiba-tiba aku disergap dari belakang. Pinggangku dicengkeram erat.

Dan kudengar tawa bengis ketika aku terempas ke tanah.



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen judi online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online