Chapter 25
"T ARIK
tambang! Tarik tambang!"
Seman lain
terdengar di bagian belakang dan segera menyebar sampai ke depan.
"Yes!"
Hap dan Chip berseru dengan gembira.
"Ini
baru asyik!" sorak Hap.
"Kita
pakai mereka untuk tambang! Biar melar!" Chip menimpali.
"Biar
melar! Biar melar!"
"Tarik
tambang! Tarik tambang!"
"Joe-kita
harus bagaimana?" aku mendengar suara Mindy yang ketakutan di tengah
sorak-sorai yang membahana.
Cepat cari
ide, Joe, kataku dalam hati. Berpikirlah! Pasti ada jalan keluar dari ruang
bawah tanah ini.
Tapi otakku
mendadak tumpul. Sorak-sorai itu mengiang-ngiang di telingaku. Ke mana pun aku
memandang, yang kulihat hanyalah wajah-wajah yang' tersenyum mengejek.
Pikiranku jadi
kacau-balau.
"Biar
melar! Biar melar!"
"Lipat
mereka! Lipat mereka!"
"Gelitik!
Gelitik!"
Tiba-tiba,
di tengah teriakan para kurcaci yang melengking tinggi aku mendengar bunyi yang
akrab di telingaku.
Gonggongan
anjing.
Gonggongan
Buster.
"Buster!"
seru Mindy. "Aku mendengar gonggongannya!"
"A-aku
juga!" ujarku. Aku berbalik dan memandang ke jendela di atas kami.
"Ia mengikuti kita! Sepertinya ia di depan jendela!"
Coba Buster
bisa bicara. Coba ia berlari pulang dan memberitahu Mom dan Dad bahwa kami
sedang dalam kesulitan.
Tapi ia cuma
bisa menggonggong. Atau... barangkali ada lagi yang bisa dilakukannya?
Sekonyong-konyong
aku teringat betapa ngeri tampang Hap dan Chip setiap kali Buster muncul. Aku
teringat raut wajah mereka yang ketakutan. Aku seolah mendapat harapan baru.
Barangkali kurcaci-kurcaci itu takut anjing. Barangkali Buster bisa
menakut-nakuti, supaya mereka mau melepaskan kami. Barangkali ia bahkan bisa
membuat mereka begitu takut, hingga mereka kembali tersihir dan tidak sadar.
Dengan
punggung menempel ke dinding aku bergeser mendekati kakakku. "Mindy
kurcaci-kurcaci ini sepertinya takut pada Buster. Kalau Buster bisa kita
panggil ke sini barangkali ia bisa menyelamatkan kita."
Kami tidak
membuang-buang waktu. Bersama-sama kami memanggil-manggil ke jendela.
"Buster! Buster! Ayo, kemari!"
Bisakah
Buster mendengar seruan kami di tengah hiruk-piruk ini?
Ya!
Kepalanya
yang besar muncul di jendela.
"Anjing
pintar!" aku memujinya. "Ayo, turun ke sini. Turun ke sini,
Buster!"
Buster
membuka mulut. Ia menjulurkan lidahnya yang berwarna pink dan mulai
terengah-engah.
"Anjing
pintar," aku merayunya. "Anjing pintar. Ayo, turun. Cepat! Ayo,
Buster! Ayo!"
Buster
menyembulkan kepala lewat lubang jendela. Lalu menguap lebar.
"Turun,
Buster!" perintah Mindy: "Ayo, turun ke sini!"
Buster malah
menarik kepalanya keluar. Dan berbaring di depan jendela. Aku bisa melihatnya
berbaring sambil menaruh kepala pada kaki depannya.
"Jangan,
Buster!" aku berteriak untuk mengalahkan suara-suara di sekelilingku.
"Turun ke sini! Jangan tidur! Turun, Buster! Turun!"
"Guk?"
Ia kembali menyembulkan kepala lewat lubang jendela. Semakin dekat. Semakin
dekat.
"Begitu,
dong! Ayo, lagi!" aku memohon-mohon. "Sedikit lagi... sedikit lagi...
Kalau kau mau turun ke sini, kau akan kuberi biskuit kesukaanmu lima kali
sehari"
Buster
memiringkan kepala, mengendus-endus udara yang lembab dan berbau keringat di
mang bawah tanah.
Aku
merentangkan tangan. " Ayo, Buster. Hanya kau yang bisa menyelamatkan
kami.
Ayo,
dong-cepat! Turun ke sini!"
Tapi Buster
malah menarik kepalanya lagi.
Ia berbalik.
Dan
melangkah pergi.
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu
online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di
agen judi online dan daftar menjadi
member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus.
Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan
menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar