Chapter 24
BERSENANG-SENANG?
Apa maksudnya
dengan bersenang-senang?
Hap dan Chip
menerobos kerumunan rekan-rekan mereka dan melangkah ke samping kami. Sekali
lagi mereka bertepuk tangan sebagai isyarat diam bagi kawan-kawan mereka yang
terus berceloteh sambil cekikikan.
Seketika
ruang bawah tanah jadi sunyi.
"Kalian
menipu kami!" Mindy menghardik kedua kurcaci itu. "Kalian
bohong!"
Mereka malah
tertawa cekikikan dan saling menepuk pundak.
"Aku
sendiri heran kalian percaya kisah sedih yang kami ceritakan," Hap berkata
sambil geleng-geleng.
"Kami
kan sudah bilang kami Kurcaci Pembuat Onar," Chip mengejek. “Seharusnya
kalian tahu bahwa kami bakal menipu kalian!"
"Lelucon
yang bagus," ujarku sambil memaksakan tawa serak. "Kalian berhasil
menipu kami. Hebat. Tapi sekarang biarkan kami pulang, oke?"
"Yeah.
Biarkan kami pulang!" Moose mendesak.
Tawa mereka
langsung meledak.
Hap
menggelengkan kepala. "Tapi keisengan kami baru mulai!" ujarnya.
Sorak-sorai
dan tawa cekikikan kembali membahana.
Chip
berpaling pada kawan-kawannya. "Jadi apa yang harus kita lakukan dengan
tawanan kita yang lucu-lucu ini? Ada usul?"
"Coba
lihat apakah mereka bisa membal!" salah satu kurcaci berseru dari
belakang.
"Yeah.
Kita pakai mereka untuk dribble."
"Kita
bikin kontes dribble."
"Jangan-lemparkan
mereka ke dinding. Kita main lempar dan tangkap!"
Sorak sorai
lagi.
"Jangan!
Lebih seru mereka dilipat-lipat sampai jadi bujur sangkar kecil! Aku paling
suka melipat-lipat manusia!"
"Ya!
Kontes lipat!" kurcaci lain menimpali.
"Lipat
mereka! Lipat mereka! Lipat mereka!" berapa kurcaci berseru-seru.
"Bagaimana
kalau mereka kita gelitik saja?" kurcaci di depan mengusulkan.
"Gelitik
mereka sampai mati!"
"Gelitik!
Gelitik! Gelitik!"
Seluruh
mangan bergema oleh seruan-seruan yang berapi-api.
"Lipat
mereka! Lipat mereka! Lipat mereka!"
"Gelitik!
Gelitik! Gelitik!"
"Dribble!
Dribble! Dribble! Dribble!"
Aku
berpaling pada Moose. Dia menatap kerumunan kurcaci yang hiruk-pikuk, tampak
sangat ketakutan. Matanya terbelalak lebar dan dagunya gemetaran.
Mindy
merapatkan punggung ke dinding ruang bawah tanah. Rambutnya yang pirang melekat
di keningnya. Kedua tangan diselipkannya dalam kantong kimono.
"Aduh,
kita harus bagaimana, nih?" tanyanya di tengah sorak-sorai yang
mengelilingi kami.
Tiba-tiba
aku dapat ide.
Tanganku
kuangkat tinggi-tinggi. "Diam!" aku memekik.
Semua
kurcaci langsung terdiam. Ratusan pasang mata merah menatapku sambil mendelik
"Lepaskan
kami!" aku menuntut. "Atau kami bertiga akan berteriak-teriak dengan
sekuat tenaga. Teriakan kami akan membangunkan Mrs. Anderson. Dan ia langsung
akan turun untuk menyelamatkan kami!"
Hening.
Berhasilkah
aku menggertak mereka?
Tidak.
Mereka tertawa berbahak-bahak, mengejek. Mereka saling menepuk pundak,
menyoraki kami sambil cekikikan.
"Kalian
harus cari ide yang lebih bagus dari itu!" ujar Hap, menyunggingkan senyum
lebar.
"Kami
tahu Mrs. Anderson tidak bisa mendengar apa-apa."
"Ayo,
teriaklah," Chip mendesak. "Teriaklah sampai puas. Kami suka
mendengar manusia berteriak-teriak." Ia berpaling pada Hap. Mereka pun
saling menepuk pundak, berguling di lantai tertawa cekikikan sambil
menendang-nendang.
Sorak-sorai
kembali riuh.
"Gelitik!
Gelitik! Gelitik!"
"Lipat
mereka! Lipat mereka! Lipat mereka!"
"
Dribble! Dribble! Dribble!"
Sambil
menghela napas aku berpaling pada kakaku dan sahabatku yang sama-sama
ketakutan.
"Celakalah
kita," aku bergumam. "Kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Bagi anda yang berminat
dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link
situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka
anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan
fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar