Pembalasan Kurcaci Ajaib | Goosebumps #34 | Chapter 1



Chapter 1


KLAK, klak, klak.


Bola pingpong itu melompat-lompat di lantai ruang bawah tanah.

"Yes!" seruku ketika melihat Mindy pontang-panting mengejar bola itu.

Udara sore di bulan Juni itu gerahnya minta ampun. Ini hari pertama liburan musim panas. Dan Joe Burton baru saja melayangkan satu lagi pukulan mematikan.

Joe Burton itu aku. Umurku dua belas. Dan bagiku tak ada yang lebih asyik daripada melancarkan smes tajam yang tak terjangkau oleh kakak perempuanku, dan menonton ia kocar-kacir mengejar bola.

Jangan salah sangka. Aku bukannya sok jago. Aku cuma mau memperlihatkan kepada Mindy bahwa ia tidak sehebat yang disangkanya.

Ibarat kucing dan anjing, aku dan Mindy memang sering bertengkar. Dan kenyataannya, dibanding dengan anggota keluarga yang lain, aku memang berbeda.

Mindy, Mom, dan Dad berambut pirang, bertubuh kurus dan jangkung. Sedang aku berambut cokelat, bertubuh agak gemuk dan pendek. Mom bilang itu karena aku belum memasuki masa pertumbuhan yang pesat.

Oke, aku memang pendek. Bahkan aku mengalami kesulitan untuk melihat ke seberang net. Tapi, meski dengan sebelah tangan terikat pun aku tetap bisa mengalahkan Mindy.

Aku senang sekali kalau menang. Sebaliknya Mindy marah sekali kalau kalah. Dan ia selalu ingin menang sendiri. Setiap kali aku membuatnya pontang-panting, segera saja ia menuduhku curang.

"Joe, bolanya tidak boleh ditendang ke seberang net," keluh Mindy sambil meraih bola ke bawah sofa.

"Jangan ngawur!" seruku. "Semua Juara pingpong juga melakukannya. Itu yang disebut Soccer Slam!"

Mindy memutar-mutar bola mata. "Oh, yang benar saja," ia bergumam. "Giliran aku yang serve."

Mindy memang aneh. Mungkin ia anak umur empat belas yang paling aneh di seluruh kota.

Misalnya saja, di kamarnya Mindy mengatur buku-bukunya menurut abjad-berdasarkan nama pengarangnya. Ada-ada saja, kan?

Dia membuat kartu untuk setiap buku, yang disusunnya di laci paling atas di meja belajarnya. Seperti di perpustakaan umum saja.

Kalau bisa, ia tak keberatan memangkas bagian atas buku-bukunya supaya semua berukuran sama.

Pokoknya ia serba rapi. Baju-baju di lemarinya disusun sesuai urutan warna pelangi.

Pertama merah. Lalu jingga. Terus kuning. Setelah itu hijau, biru, dan ungu.

Kalau makan malam, ia menghabiskan makanannya mengelilingi piring, searah jarum jam. Pertama-tama ia makan bubur kentangnya. Kemudian kacang polong. Sesudah itu daging gulung. Kalau sampai ada satu kacang polong nyasar ke bubur kentangnya, ia pasti langsung sewot!

Aneh. Benar-benar aneh.

Aku sama sekali berbeda. Aku sih cool. Tidak serius seperti kakakku. Kalau mau, aku bisa lucu sekali. Teman-teman bilang, aku pelawak. Malah semua orang bilang begitu.

Kecuali Mindy.

"Ayo cepat serve, dong!" seruku. "Apa aku harus tunggu sampai tahun depan?!"

Mindy bersiap-siap. Setiap kali serve ia berdiri di tempat yang persis sama. Dengan gaya persis sama. Sampai-sampai jejak kakinya membekas di karpet.

"Sepuluh-delapan, dan aku serve," kata Mindy. Ia selalu menyebutkan skor sebelum melakukan servis. Lalu tangannya terayun ke belakang.

Kutempelkan betku ke mulut seperti mikrofon. "Ia mengambil ancang-ancang," aku berkomentar. "Penonton terdiam. Suasana menjadi tegang."

"Joe, jangan macam-macam," hardiknya. "Aku tak bisa konsentrasi."

Aku paling suka berlagak jadi komentator olah raga. Sebaliknya Mindy paling jengkel melihatku begitu.

Tangannya kembali terayun ke belakang. Ia melemparkan bola, dan...

"Awas! Labah-labah!" teriakku. "Di pundakmu!"

"Ihhhhh!" Mindy langsung melepaskan betnya dan sibuk menepuk-nepuk pundak. Bola jatuh ke bidang permainannya sendiri.

"Hah, ketipu!" seruku. "Tambah satu angka untukku. "

"Enak saja!" balas Mindy gusar. "Kau curang, Joe." Dengan saksama ia merapikan T-shirt pinknya, memungut bola dan memukulnya melewati net.

"Aku mungkin curang, tapi tak kehilangan daya tarik!" sahutku. Aku berputar di tempat dan menghajar bola yang melayang ke arahku. Tapi bolanya mengenai bidang permainanku dulu sebelum melewati net.

"Foul!" teriak Mindy. "Kau selalu bikin kesalahan."

Aku menudingnya dengan bet. "Huh, ngotot amat, sih," kataku. "Ini kan cuma permainan. Sekadar bersenang-senang."

"Kau akan kalah. Itu yang membuatku senang."

Aku angkat bahu. "Memangnya kenapa? Kalah-menang kan tidak jadi soal."

"Siapa bilang?" Sekali lagi ia memutar-mutar bola matanya. Aku yakin suatu hari matanya bakal copot dari kepalanya!

Aku menirunya. Kuputar bola mata ke belakang hingga mataku tinggal putihnya saja.

"Hebat, ya?"

"Lucu sekali, Joe," gumam Mindy. "Lucu sekali. Hati-hati, bisa-bisa matamu tidak balik lagi lho. Tapi mungkin lebih baik begitu!"

"Huh, norak!" sahutku. "

Mindy kembali memijakkan kaki di tempat yang sama.

"Ia mengambil posisi serve," aku berkata sambil menempelkan bet ke mulut. "Ia kelihatan gugup. Ia..."

"Joe!" Mindy merengek. "Jangan ribut terus, dong!"

Ia melemparkan bola ke udara, mengayunkan bet, dan-

"Idih!" seruku. "Di hidungmu kok ada gumpalan hijau?"

Kali ini Mindy tidak tertipu. Bola memantul satu kali sebelum melewati net.

Aku menerjang maju dan menghajar dengan ujung betku. Bola melayang tinggi, jatuh di sudut ruang bawah tanah. Di antara mesin cuci dan pengering.

Mindy mengejar bola, kakinya yang panjang dan kurus bergerak lincah. "Hei, Buster mana? Biasanya ia tidur-tiduran di samping pengering."

Buster anjing kami, jenis Rottweiler besar berbulu hitam. Kepalanya saja sebesar bola basket. Ia paling senang tidur-tiduran di kantong tidur tua yang kami gelar di pojok ruang bawah tanah. Terutama saat kami main pingpong di situ.

Orang yang pertama kali melihat Buster pasti ngeri. Tapi tidak lama. Karena setelah itu Buster mulai menjilat-jilat dengan lidahnya yang panjang dan basah. Atau telentang di lantai minta perutnya digaruk-garuk. Sesungguhnya dia memang anjing ramah. Cuma badannya saja yang besar.

"Di mana dia, Joe?" Mindy menggigit bibir.

"Pasti di sekitar sini," sahutku. "Kenapa sih kau selalu kuatir soal Buster? Beratnya lebih dari lima puluh kilo. Ia bisa jaga diri."

Mindy langsung mengerutkan kening. "Ia tidak bisa apa-apa kalau sampai tertangkap oleh Mr. McCall. Masih ingat ancaman Mr. McCall ketika Buster menginjak-injak tanaman tomatnya?"

Mr. McCall tetangga kami. Ia tinggal di rumah sebelah. Buster senang sekali bermain-main di pekarangan keluarga McCall. Ia suka tidur di bawah pohon elm yang besar. Dan menggali lubang-lubang kecil-kadang-kadang Juga lubang-lubang besar- di seluruh halaman. Sering juga ia mencari makanan kecil di kebun sayur mereka.

Tahun lalu Buster menggali semua tanaman kol kepunyaan Mr. McCall. Tak lupa melahap terongnya yang paling besar untuk hidangan pencuci mulut.

Itu sebabnya Mr. McCall begitu benci pada Buster. Ia mengancam bahwa kalau sekali lagi memanen tanpa izin tanaman di pekarangannya Buster bakal dijadikan pupuk.

Dad dan Mr McCall selalu bersaing ketat untuk menjadi tukang kebun paling hebat di kota kami. Mereka benar-benar serius. Malah bisa dibilang tergila-gila pada berkebun.

Menurutku berkebun itu memang cukup mengasyikkan. Tapi teman-temanku bilang berkebun cuma cocok untuk orang jompo.

Setiap tahun Dad dan Mr. McCall adu hebat di pameran perkebunan. Biasanya sih Mr. McCall yang keluar sebagai juara pertama. Tapi tahun lalu Dad dan aku memenangkan hadiah pertama untuk tomat-tomat kami.

Mr. McCall benar-benar jengkel. Ketika nama Dad diumumkan, muka Mr. McCall langsung semerah tomat-tomat kami.

Jadi tahun ini Mr. McCall bertekad bulat hendak membalas kekalahannya. Sejak beberapa bulan lalu, ia mulai menimbun pupuk tanaman dan obat pembasmi hama.

Dan ia menanam sesuatu yang belum pernah ditanam orang lain di North Bay. Melon aneh berwarna jingga-hijau yang dinamakan casaba.

Dad bilang Mr. McCall melakukan kesalahan besar. Menurutnya, casaba itu tak mungkin tumbuh lebih besar dari bola tenis. Soalnya musim tanam di Minnesota terlalu singkat.

"Mr. McCall bakal kalah," ujarku dengan yakin. "Tomat-tomat kita pasti menang lagi tahun ini. Dan berkat ramuan tanahku yang khusus, kali ini ukurannya bakal sebesar bola pantai!"

"Kepalamu yang sebesar bola pantai," balas Mindy.

Aku menjulurkan lidah dan membelalakkan mata. Menurutku itu jawaban yang paling pantas.

"Siapa yang serve?" tanyaku. Saking lamanya aku sampai lupa.

"Masih aku," Mindy menyahut sambil mengambil posisi seperti biasa.

Tapi sekonyong-konyong terdengar langkah berdebam-debam di tangga di belakang Mindy

"Siapa itu?" seru Mindy

Dan kemudian sebuah kepala muncul di belakangnya. Mataku nyaris copot.

"Waw!" pekikku. "Itu... McCall!"



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen bandar ceme indonesia dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online