Edisi Kepala Terpenggal | Goosebumps #39 | Chapter 29

Chapter 29


AKU menyambar satu kepala lagi. Dan melihat puluhan semut merayap di pipinya.


Aku mengambil kepala lain.

Matanya yang hijau tampak seperti kaca.

Aku meraih kepala lain lagi.

Di telinganya ada goresan panjang berwarna putih.

Hampir saja aku mencampakkannya.

Tapi tidak jadi.

Goresan putih di telinga?

Ya Jimatku memang tergores. Adikku Jessicadia yang mengakibatkan goresan di telinga jimatku Ya Ini memang jimatku "Terima kasih, Jessica" aku bersorak dengan gembira.

Dr. Hawlings menerjang sambil mendengus. Dia menangkapku, lalu menyeretku menjauhi tumpukan kepala itu.

"Kah-lee-ah" aku berseru sambil menggenggam jimatku erat-erat. "Kah-lee-ah"

Semoga kekuatan gaibku bisa menyelamatkan Aunt Benna dan aku, aku berdoa dalam hati.

Moga-moga Jungle Magic tetap sakti.

Dr. Hawlings masih memitingku dengan kedua tangannya. Dia berusaha menyeretku ke kuali berisi air mendidih.

"Kah-lee-ah" aku berteriak.

Tangannya terlepas.

Sepertinya kedua tangannya bertambah kecil. Mengerut dan semakin pendek.

"Hah?" aku memekik kaget ketika menyadari bahwa dia memang mengerut. Seluruh tubuh Dr. Hawlings mengerut, semakin lama semakin kecil Aku menoleh ke arah Carolyn dan Kareen. Mereka pun mengerut.

Kareen menghilang di bawah topi jeraminya. Kemudian dia muncul dari balik pinggiran topi. Dia kecil sekali, cuma sebesar tikus.

KetiganyaKareen, Carolyn, dan Dr. Hawlings berlari melintasi rumput. Semuanya kini seukuran tikus. Mereka berceloteh dengan suara melengking.

Aku berdiri di samping tumpukan kepala dan memperhatikan mereka berlari menjauh. Sesaat kemudian mereka telah lenyap di hutan.

Aku berpaling kepada Auntie. "Berhasil" seruku. "Kita diselamatkan oleh Jungle Magic"

Dia bergegas maju dan memelukku. "Kau berhasil, Mark Kau berhasil Sekarang hutan kembali aman. Seluruh dunia kembali aman"

***********************

Peluk cium menyambutku ketika Aunt Benna mengantarku pulang. Pelukan dari Momdan, bahkan, dari Jessica.

Mereka menjemput kami di bandara. Kemudian Mom membawa kami pulang. Dia telah menyiapkan makan malam khusus untuk menyambut kepulangan kami. Saking banyaknya yang ingin kuceritakan, dalam perjalanan pulang pun aku sudah mulai mengoceh.

Dan aku baru berhenti setelah makan malam selesai.

Akhirnya Aunt Benna mengajakku ke ruang baca. Dia menutup pintu ruangan itu. "Tataplah mataku," katanya. "Tataplah mataku, Mark."

Aku menurut saja. "Ada apa?" tanyaku.

Aku tidak mendengar jawabannya.

Aku hanya menatap matanya, dan tahu-tahu pandanganku mulai kabur. Semua warna di sekitarku seakan-akan bercampur-baur.

Rasanya aku melihat poster-poster di dinding melipat-lipat sendiri.

Rasanya aku melihat meja dan kursi bergeser-geser di lantai.

Sesaat kemudian penglihatanku pulih kembali. Bibiku memperhatikan sambil tersenyum. "Nah," katanya sambil meremas tanganku. "Sekarang kau sudah normal lagi, Mark."

"Hah?" Aku menatapnya sambil memicingkan mata. "Apa maksudnya?"

"Tak ada lagi Jungle Magic," katanya menjelaskan. "Aku sudah menariknya kembali. Kau sudah jadi anak laki-laki yang normal lagi."

"Maksudnya, kalau aku berseru 'Kah-lee-ah,' takkan terjadi apa-apa lagi?" tanyaku.

"Betul." Dia tersenyum padaku. "Kekuatan gaibmu sudah kucabut. Seperti kau, kepala itu pun tidak punya kekuatan lagi sekarang. Kau tak perlu lagi kuatir."

Dia berdiri sambil menguap. "Wah, sudah malam. Sudah waktunya tidur."

Aku mengangguk. "Yeah," ujarku singkat. Aku masih memikirkan bahwa aku tak lagi memiliki kekuatan gaib. "Auntie?"

"Ya?"

"Kepala ini boleh kusimpan?".

"Tentu saja," sahutnya sambil menarikku berdiri. "Simpan saja.

Sebagai kenang-kenangan. Supaya kau selalu ingat petualanganmu di hutan rimba."

"Aku tidak mungkin melupakannya," ujarku. Kemudian aku mengucapkan selamat malam, dan masuk ke kamarku.

Besoknya aku bangun pagi-pagi dan cepat-cepat berpakaian.

Aku sudah tak sabar untuk berangkat sekolah. Aku tak sabar ingin memamerkan jimatku kepada Eric dan Joel dan anak-anak lainnya.

Sarapanku kulahap dengan terburu-buru. "Aku berangkat ya"

seruku pada ibuku. Kemudian aku menyambar jimatku dan berjalan menuju ke pintu.

Aku mulai berlari menyusuri trotoar sambil menggenggam kepala itu. Cuacanya cerah. Udara terasa hangat dan segar.

Sekolahku hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari rumahku. Tapi rasanya aku sudah berlari sejauh beberapa kilometer.

Aku tak sabar lagi untuk memamerkan jimatku pada semua orang.

Aku ingin menceritakan petualanganku kepada semua temanku.

Gedung sekolahku sudah kelihatan. Dan aku melihat beberapa temanku berkerumun di depan pintu.

Ketika aku berlari menyeberangi jalan, kepala di tanganku tiba-tiba bergerak.

Kepala itu berkedut-kedut.

"Hah?" Aku langsung mengamatinya.

Kedua matanya berkedip, lalu menatapku. Bibirnya mengatup, lalu membuka lagi. "Hei, Mark," kepala itu menggeram, "biar aku saja yang bercerita tentang harimau itu, oke?"

END


Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di poker online indonesia online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online