Chapter 21
"ADUUUH"
Aku terempas
di dasar lubang. Siku dan lututku terbentur dengan keras. Nyerinya menjalar ke
seluruh tubuhku. Mataku sampai berkunang-kunang Ratusan bintang berwarna merah
dan kuning tampak bersinar-sinar di depan mataku.
Aku berkedip-kedip,
lalu memaksakan diri untuk berlutut.
Jimatku
terlepas dari tanganku. Aku melihatnya tergeletak di dekatku. Aku segera
meraihnya dengan tangan gemetar, dan menggenggamnya erat-erat.
Kepalaku
pening. Aku memejamkan mata dan menunggu peningnya mereda.
Beberapa
saat kemudian mataku kubuka lagi, kupandangi sekitarku. Aku berada di dasar
lubang yang dalam. Aku mendongakkan kepala, dan melihat langit yang biru
menyerupai kotak kecil, jauh di atasku.
Sekali lagi
aku diselamatkan oleh Jungle Magic. Kekuatan gaibku telah membelah bumi,
sehingga aku bisa jatuh ke tempat yang aman. Dengan cara itu aku berhasil lolos
dari terkaman harimau.
Di atas
terdengar suara geraman.
Aku
menengadah lalu memekik ketakutan. Di sana kulihat sepasang mata berwarna kuning
menatapku dengan garang.
Harimau itu
menggeram lagi dan memperlihatkan taringnya yang panjang.
Ternyata aku
belum lolos dari bahaya.
Aku malah
terjebak di sini. Kalau harimau itu sampai melompat ke bawah, maka tamatlah
riwayatku.
Aku tidak
bisa kabur. Tak ada jalan untuk menyelamatkan diri.
Kusandarkan
punggungku ke dinding tanah di belakangku. Aku terus menatap harimau yang
menggeram-geram itu. Binatang buas itu menatapku dengan lapar, lalu kembali
mengaum keras-keras.
Sepertinya
dia sedang mengambil ancang-ancang untuk menerkamku.
"Kah-lee-ah"
aku berseru. "Kah-lee-ah" Harimau itu menanggapi seruanku dengan
mengaum lebih keras lagi.
Aku
merapatkan punggung, berusaha menguasai tubuhku yang gemetar tak terkendali.
Jangan turun
ke sini aku memohon-mohon dalam hati. Jangan turun ke sini Mata kuning si raja
hutan di atas tampak menyala-nyala.
Kumisnya
yang keperakan berkedut-kedut ketika makhluk buas itu menggeram sambil
menyeringai.
Dan kemudian
aku melihat wajah mungil berwarna kuning-hitam muncul di tepi lubang. Salah
satu anak si harimau. Dia menatapku penuh rasa ingin tahu.
Anak harimau
yang satu lagi muncul di sebelahnya. Dia mencondongkan badannya ke depan supaya
bisa melihat lebih jelas.
Hampir saja
dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke bawah.
Induknya
segera bertindak. Dia menundukkan kepalanya lalu mendorong anaknya menjauhi
lubang. Kemudian anaknya yang satu lagi diangkat dengan giginya, dibawanya
pergi.
Aku menelan
ludah. Tidak berani bergerak. Aku tetap mendongak sambil berdiri dengan
punggung menempel rapat ke dinding. Kuperhatikan kotak biru di atas. Dan
menunggu harimau itu kembali.
Aku
menunggu.
Dan
menunggu. Sambil terus menahan napas.
Suasananya
hening. Saking sepinya, aku bisa mendengar alang-alang berdesir karena tiupan
angin.
Sepotong
tanah jatuh dari tepi lubang. Aku tetap memandang ke atas tanpa berkedip. Aku
terus menunggu sambil pasang telinga.
Rasanya
sudah berjam-jam. Akhirnya aku mengembuskan napas. Aku maju selangkah dan
meregangkan otot-ototku.
Harimau itu
tidak kembali lagi, aku menyimpulkan.
Dia cuma
ingin melindungi anak-anaknya. Dan sekarang mereka pasti sudah pindah ke tempat
lain. Yang jauh dari sini.
Aku kembali
meregangkan badan. Jantungku masih berdegup kencang. Tapi perasaanku sudah
mulai lebih tenang.
Bagaimana
caranya keluar dari sini? aku bertanya-tanya. Aku mengamati dinding-dinding
tanah yang hampir tegak lurus. Bisakah kau memanjat keluar?
Kuselipkan
jimatku ke kantong T-shirt. Kemudian kucengkeram tanah yang dingin dan lembap
dengan kedua tangan, mencoba memanjat.
Aku berhasil
naik sekitar setengah meter. Tapi kemudian tanah yang kuinjak mendadak ambrol,
dan aku langsung merosot ke dasar lubang.
Gawat. Aku
takkan bisa keluar.
Aku
mengeluarkan jimatku. Tak ada jalan lain, pikirku. Aku harus menggunakan Jungle
Magic.
Kekuatan
gaib yang membuatku terperosok ke sini. Kekuatan gaib yang juga akan membantuku
keluar.
Aku
mengangkat kepala itu. Tapi sebelum sempat mengucapkan mantranya, seluruh
lubang menjadi gelap.
Lho,
memangnya sudah malam? aku terheran-heran.
Aku
menengadah.
Hmm,
ternyata masih terang. Langit di atasku masih berwarna biru cerah.
Ada sesuatu
di atas yang menghalangi sinar matahari.
Harimau
tadi? Atau seseorang?
Aku
memicingkan mata supaya bisa melihat lebih jelas.
"S-siapa
itu?" seruku.
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online
berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di judi bola online dan daftar
menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan
bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap
melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar