Chapter 22
SEBUAH wajah
muncul di tepi lubang, lalu memandang ke bawah.
Sambil tetap memicingkan mata,
aku melihat rambut pirang yang lurus. Dan sepasang mata berwarna biru pucat.
"Kareen"
seruku.
Dia
menempelkan tangan bagaikan corong di sekeliling mulutnya. "Marksedang apa
kau di bawah situ?"
"Hah?"
aku berseru. "Kenapa kau ada di sini?"
Rambutnya
jatuh ke depan, menutupi wajahnya. Dia segera menyibakkannya ke belakang.
"Aku mengikutimu. Aku takut kau kenapa-kenapa di jalan."
"Keluarkan
aku dari sini" seruku. Sekali lagi aku mencoba memanjat. Tapi kakiku gagal
menemukan tempat berpijak yang kokoh, sehingga merosot terus.
"Bagaimana
caranya?" tanya Kareen.
"Kau
pasti lupa bawa tangga ya" aku berseru.
"Mana
mungkin aku bawa tangga" dia membalas dengan ketus.
Kelihatannya
dia memang tidak bisa diajak bercanda.
"Barangkali
aku bisa melemparkan tali atau sebangsanya," usulnya kemudian.
"Mana
ada tali di tengah-tengah hutan?" aku mengingatkannya.
Dia
menggelengkan kepala. Wajahnya tampak cemberut.
"Bagaimana
dengan tumbuhan rambat?" aku kembali berseru.
"Coba
cari tumbuhan rambat yang panjang. Aku pasti bisa memanjat keluar kalau ada
yang dijadikan pegangan."
Tampangnya
langsung cerah lagi. Dia menghilang. Aku menunggu dengan gelisah. "Cepat
dong," aku bergumam sambil memandang ke atas. "Kok lama benar
sih?"
Aku
mendengar burung-burung bercuit-cuit di atas. Lalu terdengar suara sayap
dikepak-kepak.
Sepertinya
burung-burung itu ketakutan, aku berkata dalam hati. Tapi kenapa? Wah,
jangan-jangan harimau tadi kembali lagi.
Aku
merapatkan punggung ke dinding tanah, terus memandang ke atas.
Akhirnya
Kareen muncul lagi. "Aku sudah menemukan tumbuhan rambat. Tapi aku tidak
tahu cukup panjang atau tidak."
"Turunkan
saja," ujarku. "Cepat. Aku harus keluar dari sini.
Aku merasa
seperti binatang yang terperangkap."
"Aku
harus menarik setengah mati untuk mencabutnya dari tanah," Kareen
menggerutu. Dia mulai menurunkan tumbuhan rambat itu. Sepintas lalu kelihatan
seperti ular yang meliuk-liuk menghampiriku.
Tumbuhan
rambat itu turun sampai sekitar satu meter di atas kepalaku. "Aku akan
melompat dan berusaha meraihnya," kataku pada Kareen. "Habis itu aku
akan berusaha memanjat sementara kau menarik. Lilitkan ujungnya yang satu lagi
ke pinggangmu, oke? Hati-hati, jangan sampai terlepas"
"Pokoknya,
jangan seret aku ke bawah" dia menyahut.
Aku menunggu
sampai dia selesai mengikat ujung tumbuhan itu di pinggangnya. Kemudian aku
mengambil ancang-ancang dan melompat. Tapi lompatanku kurang tinggi beberapa
sentimeter.
Dalam
keadaan seperti ini aku selalu menyesal bahwa aku pendek dan gendut, bukannya
jangkung.
Aku harus
melompat tiga kali sebelum berhasil meraih ujung tumbuhan rambat itu. Langsung
saja aku menggenggamnya dengan kedua tangan.
Kemudian aku
menempelkan telapak sepatuku ke dinding tanah. Aku mulai menarik diriku ke atas
sambil melangkah pelan-pelan, bagaikan pendaki gunung.
Tanah yang
kuinjak selalu ambrol. Dan tumbuhan rambat yang kugenggam pun bertambah licin
karena telapak tanganku mulai berkeringat. Tapi Kareen terus memberi semangat
padaku, sehingga aku pun pantang menyerah.
Dengan susah
payah aku berhasil sampai di atas.
Aku langsung
menjatuhkan diri di rumput, dan menghirup aromanya yang segar. Aku senang
sekali karena berhasil keluar dari lubang yang dalam itu.
"Bagaimana
kau bisa terperosok ke situ?" tanya Kareen sambil melepaskan tumbuhan
rambat yang masih melilit di pinggangnya.
"Ah,
gampang sekali," jawabku. Aku berdiri dan menepis-nepis tanah merah yang
menempel di pakaianku.
"Kau
tidak lihat lubang itu?" desaknya.
Aku
menggelengkan kepala. "Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" aku
bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kau ada di sini,
Kareen?"
Dia
menatapku dengan matanya yang biru. "Aku cemas memikirkan keselamatanmu.
Tidak seharusnya aku membiarkanmu masuk hutan seorang diri. Jadi aku
menyusulmu, diam-diam, waktu ayahku sedang sibuk di lab. Aku menyelinap keluar
dari markas, dan mengikutimu kemari."
Aku
membersihkan tanah dari rambutku. "Hmm, untung saja,"
ujarku.
"Tapi kau bakal dapat masalah dengan ayahmu dan Carolyn ya, kan?"
Kareen
menggigit bibir. "Kemungkinan sih. Tapi tidak apa-apa yang penting kita
harus menemukan bibimu."
Aunt Benna
Saking paniknya menghadapi jebakan pasir isap dan serangan harimau tadi, aku
nyaris melupalam Aunt Benna Sebuah bayangan menyelubungi kami. Udara mendadak
terasa lebih sejuk. Aku menoleh ke langit. Matahari mulai menghilang di balik
pepohonan. "Sebentar lagi malam tiba," ujarku. "Moga-moga kita
bisa menemukan Auntie sebelum gelap."
Aku sudah
satu malam tidur di tengah hutan. Dan aku tidak berminat mengulangi pengalaman
itu.
"Kau
tahu ke mana kita harus berjalan?" tanya Kareen. "Atau kau cuma
berputar-putar tanpa tujuan dan mengandalkan keberuntungan?"
"Enak
saja," sahutku. Serta-merta kukeluarkan jimatku dari kantong. "Dia
yang menunjukkan jalannya."
"Hah?"
Kareen tampak terheran-heran.
"Matanya
bersinar kalau aku berjalan ke arah yang tepat," aku menjelaskan.
"Paling tidak, begitulah kesimpulanku."
Kareen
membelalakkan mata. "Maksudmu, kau benar-benar punya Jungle Magic?"
Aku
mengangguk. "Yeah. Ternyata aku memang punya kekuatan gaib. Aneh lho. Ada
satu kata yang dari dulu sering kuucapkan. 'Kah-lee-ah.' Aku sendiri tidak tahu
apa artinya. Tadinya aku pikir kata itu cuma karanganku saja. Tapi rupanya
itulah mantera untuk mengaktifkan Jungle Magic."
"Wow"
seru Kareen. Dia mengembangkan senyum. "Ini berita bagus, Mark Ini berarti
kita bisa menemukan Benna. Wah, aku senang sekali."
Bayang-bayang
di tanah bertambah panjang saat matahari semakin rendah. Tubuhku menggigil
ketika kami diterpa embusan angin dingin.
Perutku
keroncongan. Aku sudah lupa kapan aku terakhir makan. Aku berusaha mengalihkan
pikiranku dari makanan. Tugasku belum selesai.
"Ayo,
kita jalan lagi," ujarku. Aku mengangkat jimatku dan mengamatinya.
Kemudian aku berputar di tempat, pelan-pelan, sampai mata jimatku mulai
bersinar. "Lewat sini" aku berseru sambil menunjuk ke arah pepohonan
di seberang padang rumput.
Kareen dan
aku berjalan berdampingan. Alang-alang di sekeliling kami berdesir-desir dan
menyerempet kaki kami setiap kali kami melangkah. Ratusan serangga
berderik-derik di pohon-pohon.
Kareen terus
menatap mata jimatku yang bersinar-sinar. "Kau yakin kepala itu bakal
mengantar kita ke tempat Benna?"
"Lihat
saja nanti," sahutku.
Kami
memasuki daerah bayang-bayang di bawah pepohonan yang rimbun.
Bagi
anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya,
silahkan klik link situs kami di agen judi online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka
anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan
fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar