Edisi Kepala Terpenggal | Goosebumps #39 | Chapter 24

Chapter 24


AKU memanggil sekali lagi, lalu menghampiri pintu gubuk yang terbuka. Dari dalam terdengar bunyi benturan. Aku melihat pancaran cahaya. Dan mendengar seseorang memekik kaget.


Sebuah lentera muncul di pintu. Mataku menatap cahaya yang kuning pucat itu. Lalu beralih kepada wanita yang memegang lentera.

Dia pendek sekali. Paling-paling sejengkal lebih tinggi dari aku, dan agak gemuk. Rambutnya hitam dan lurus, diikat ke belakang. Dalam cahaya lentera, kulihat dia mengenakan celana dan jaket tentara.

"Siapa itu?" Dia mengangkat lenteranya tinggi-tinggi.

"Aunt Benna?" aku memanggil sambil mendekat. "Auntie?"

"Mark? Ya ampun" dia berseru. Serta-merta dia berlari menghampiriku. Lenteranya berayun-ayun di sisinya. Cahayanya menerangi alang-alang yang tinggi, menghasilkan bayangan yang menari-nari.

Dia langsung memelukku. "Mark bagaimana kau berhasil menemukanku? Dan kenapa kau ada di sini?" Suaranya melengking, dan dia bicara cepat sekali, nyaris tak terputus.

Dia mendorongku sedikit menjauh untuk mengamati wajahku.

"Astaga, aku hampir tidak mengenalimu. Terakhir kali kita ketemu, kau masih empat tahun"

"Auntie kenapa Auntie bersembunyi di tengah hutan?"

tanyaku. "Semua orang begitu cemas"

"Bagaimana kau bisa sampai ke Baladora?" selanya sambil menggenggam pundakku dengan sebelah tangan. Lenteranya kembali diangkat tinggi-tinggi. "Kenapa kau ada di sini? Bagaimana kau bisa sampai di sini?" dia berseru sekali lagi.

"A-aku menggunakan Jungle Magic," jawabku tergagap-gagap.

Dia membelalakkan mata. Karena kaget? Atau karena ngeri?

Tiba-tiba aku sadar bahwa bukan aku yang diperhatikannya.

"Halo. Siapa kau?" Bibiku bertanya pelan-pelan. Dia mengarahkan lenteranya ke pepohonan.

Kareen muncul di tepi lapangan terbuka. Tadi, saking tegangnya, aku tidak sadar bahwa dia tertinggal di belakangku.

"Itu Kareen," aku berkata pada bibiku. "Aunt kenal Kareen, bukan? Anaknya Dr. Hawlings?"

Bibiku menahan napas. Dia meremas pundakku. "Kenapa kau mengajaknya kemari? Apakah kau tidak sadar bahwa"

"Tenang saja," Kareen memotong. "Aku cuma kuatir. Karena itulah aku mengikuti Mark."

"Dia membantuku," aku menjelaskan kepada Auntie. "Kareen membantuku kabur dari markas. Dari Dr. Hawlings dan Carolyn. Dia juga membantuku menerobos hutan."

"Tapitapi" Aunt Benna hendak memprotes. "Dia tahu soal Jungle Magic?"

"Aku cuma mau menolong" Karen berkeras. "Ayahku juga cemas. Dia"

"Ayahmu mau membunuhku " Auntie berseru dengan gusar.

"Karena itulah aku terpaksa melarikan diri. Karena itulah aku terpaksa meninggalkan segala sesuatu dan bersembunyi di tengah hutan." Dia memelototi Kareen sambil memicingkan mata. Roman mukanya tampak keras dalam cahaya lentera yang berwarna kuning.

"Auntie tidak perlu kuatir," aku berusaha meyakinkannya. "Dia betul-betul ingin membantu."

Bibiku berpaling padaku. "Carolyn dan Hawlings yang membawamu ke sini?"

Aku mengangguk. "Ya. Untuk mencari Auntie. Dan Carolyn membawakan ini untukku." Kukeluarkan jimatku dari kantong T-shirt.

Matanya tak lagi bersinar.

"Mereka memberitahu bahwa aku punya kekuatan gaib," aku melanjutkan. "Mula-mula aku tidak tahu apa yang mereka maksud.

Kupikir mereka tidak waras. Tapi kemudian, waktu aku mencari Auntie di hutan, aku sadar bahwa aku memang punya kekuatan gaib."

Bibiku mengangguk. "Ya. Kau memang punya, Mark. Aku memberikannya padamu waktu aku mengunjungi kalian. Waktu itu kau berumur empat tahun. Kau kuhipnotis. Lalu kupindahkan Jungle Magic dari diriku ke dirimu. Supaya tetap aman."

"Ya. Aku sudah membaca catatan Auntie," sahutku. "Aku sudah tahu kenapa kau memberikan kekuatan gaib itu padaku. Tapi di situ tidak dibilang apa Jungle Magic sesungguhnya. Aku cuma tahu bahwa"

"Jungle Magic adalah kekuatan gaib yang sangat sakti," dia memotong sambil merendahkan suaranya. "Kekuatan gaib itu akan menjalankan segala perintahmu, segala keinginanmu."

Matanya meredup karena sedih. "Tapi sekarang kita tidak punya waktu untuk membicarakannya," dia berbisik. "Kita terancam bahaya, Mark. Bahaya besar."

Aku hendak mengatakan sesuatu. Tapi tiba-tiba terdengar suara berderak-derak dari pepohonan. Suara langkah?

Kami bertiga menoleh ke arah suara itu.

Di luar dugaanku, Kareen langsung berlari. Dia menempelkan tangan di sekeliling mulut. "Sebelah sini, Dad" serunya. "Sebelah sini Aku menemukan Benna, Dad Cepat"



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen poker online indonesia dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online