Edisi Kepala Terpenggal | Goosebumps #39 | Chapter 23

Chapter 23


SEMENTARA cahaya matahari semakin redup, suara-suara yang terdengar di sekitar kami pun berubah.
Kawanan burung di pohon-pohon berhenti berkicau. Suara serangga di sekeliling kami bertambah nyaring. Di kejauhan terdengar bermacam-macam suara binatang yang aneh-aneh.

Mudah-mudahan saja semua binatang itu tetap jauh dari kami Samar-samar aku melihat berbagai makhluk menyelinap di antara rumpun-rumpun pakis. Semak belukar tampak bergoyang-goyang setiap kali ada binatang yang melintas.

Aku mendengar ular mendesis-desis. Lalu suara burung hantu yang menyeramkan. Juga kepak sayap kelelawar.

Aku berjalan sambil merapat ke Kareen. Suara-suara itu jauh lebih realistis daripada suara-suara dalam game Jungle King di komputerku Rasanya aku takkan pernah lagi memainkannya setelah ini, ujarku dalam hati. Habis, game itu tidak ada apa-apanya dibandingkan pengalamanku di sini.

Kami menerobos ilalang yang tumbuh tinggi. Mata jimatku meredup sampai akhirnya sama sekali tak bercahaya.

"Kita salah jalan," bisikku.

Kareen dan aku berputar sampai mata jimatku kembali bersinar.

Kemudian kami maju lagi, melangkahi tumbuhan rambat sebesar lengan orang, dan menembus semak belukar yang saling mengait.

"Aduh" Kareen menepuk keningnya. "Nyamuk brengsek."

Semakin banyak serangga yang beterbangan di sekitar kami.

Bunyi denging yang terdengar mengalahkan suara langkah kami.

Keadaan semakin gelap, dan cahaya yang terpancar dari mata jimatku seakan-akan bertambah terang. Cahaya itu menerangi jalan kami bagaikan sepasang senter.

"Capek juga ya," Kareen mengeluh. Dia merunduk untuk menghindari dahan pohon yang menggantung rendah. "Mudah-mudahan kita sudah dekat ke tempat persembunyian bibimu. Kakiku sudah mulai tidak kuat jalan."

"Ya, mudah-mudahan saja," aku bergumam. Aku sendiri sudah capek sekali Sambil berjalan, aku terus memikirkan bibiku dan buku catatannya. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Kareen, tapi harus berterus terang padanya.

"Bibiku menuliskan hal-hal yang kurang menyenangkan tentang ayahmu dan Carolyn dalam notesnya," ujarku sambil memandang ke bawah karena tidak berani menatap mata Kareen. "Aku kaget sekali waktu membacanya."

Kareen terdiam sejenak. "Sayang," dia lalu berkata. "Padahal mereka sudah lama bekerja sama. Mereka memang sempat bertengkar."

"Tentang apa?" tanyaku.

Kareen menarik napas panjang.

"Ayahku punya rencana untuk memanfaatkan hutan ini. Dia yakin daerah ini kaya akan mineral-mineral berharga. Tapi Benna berpendapat bahwa hutan ini seharusnya dilestarikan."

Sekali lagi dia menghela napas. "Aku rasa itulah sumber perselisihan mereka. Tapi aku tidak yakin."

"Setelah membaca catatan bibiku, aku mendapat kesan bahwa ayahmu semacam penjahat," gumamku sambil menghindari tatapan mata Kareen.

"Penjahat? Ayahku?" dia berseru. "Tidak mungkin. Dia memang keras kepala, tapi dia bukan penjahat. Aku tahu ayahku sangat mencemaskan Benna. Dia kuatir bahwa"

"Hei" Aku memotong ucapan Kareen dan meraih lengannya.

"Lihat tuh" ujarku sambil menunjuk ke depan.

Di hadapan kami ada sebuah lapangan terbuka. Dan samar-samar terlihat bayangan hitam sebuah gubuk kecil.

Kareen menahan napas. "Rumah mungil itu. Barangkali?"

Kami menyusup sampai ke tepi lapangan. Sesuatu melintasi sepatuku, tapi aku tidak memperhatikannya.

Pandanganku tertuju pada gubuk yang kecil dan gelap itu.

Setelah dekat, aku melihat bahwa gubuk itu terbuat dari dahan-dahan dan ranting-ranting. Atapnya berupa daun-daun lebar. Tak ada jendela sama sekali. Tapi di sana-sini terdapat celah sempit di antara dahan-dahan.

"Hei" aku berbisik. Aku melihat cahaya redup berkerlap-kerlip di salah satu celah.

Cahaya senter? Cahaya lilin?

"Ada orang di dalam," Kareen berbisik padaku. Dia mengamati gubuk itu sambil memicingkan mata. Aku mendengar seseorang terbatuk-batuk.

Seorang wanita? Auntie? Entahlah.

"Barangkali itu bibimu," bisik Kareen sambil berlutut di sampingku.

"Hanya ada satu cara untuk memastikannya," sahutku.

Jimatku menyala terang di tanganku. Cahaya kuning kehijauan itu menerangi tanah ketika Kareen dan aku mendekat tanpa bersuara.

"Aunt Benna?" panggilku dengan suara tertahan. Aku berdeham. Jantungku berdegup kencang. "Auntie?"



Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di judi bola online dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.

Tidak ada komentar:

close
agen ceme online