Chapter 27
PAGI-PAGI
sekali, saat matahari masih merah di ufuk timur, Dr. Hawlings sudah
menyembulkan kepalanya ke dalam gubuk dan membangunkan kami.
Aku cuma
sempat tidur beberapa menit saja. Kami tidur beralaskan tanah, dan tanahnya
keras sekali.
Setiap kali
memejamkan mata, aku memimpikan kepala terpenggal di kantong T-shirt-ku. Aku
bermimpi aku menggenggamnya di tanganku. Matanya berkedip-kedip dan bibirnya
bergerak perlahan.
"Kau
bakal celaka" dia berbisik dengan suaranya yang serak.
"Kau
bakal celaka. Celaka. Celaka."
Aunt Benna
dan aku keluar dari gubuk. Kami meregangkan otot dan menguap lebar. Meskipun
matahari masih rendah di langit, udara sudah terasa panas dan lembap.
Badanku
pegal-pegal karena berbaring di tanah yang keras.
Bajuku lembap
dan berbau apak. Perutku keroncongan. Aku menggaruk tengkukku, yang ternyata
berbentol-bentol digigiti nyamuk.
Bukan pagi
yang menyenangkan.
Dan acara
selanjutnya pun tidak lebih baik.
Selama
berjam-jam kami berjalan menembus hutan yang pengapnya minta ampun. Carolyn dan
Kareen paling depan. Dr. Hawlings berjalan di belakang bibiku dan aku,
mengawasi kami.
Semuanya
membisu. Bunyi yang terdengar hanyalah teriakan berbagai binatang, kicau burung
di atas, serta desir rumput dan ilalang yang kami terobos.
Kawanan
serangga kecil berwarna putih beterbangan ketika kami lewat. Sinar matahari
menembus di sela-sela atap dedaunan, membakar tengkukku.
Ketika kami
akhirnya tiba di deretan pondok, aku bukan saja bermandikan keringat, tapi juga
lapar dan haus setengah mati.
Dr. Hawlings
menggiring Aunt Benna dan aku ke pondok kosong. Kemudian dia membanting pintu
dan mengunci kami di dalamnya.
Pondok itu
berisi dua kursi lipat dan sebuah tempat tidur kecil tanpa seprai maupun
selimut. Dengan letih aku menjatuhkan diri ke kasur. "Apa yang akan mereka
lakukan pada kita?"
Bibiku
menggigit bibir. "Jangan kuatir," katanya dengan lembut. "Aku
akan mencari akal." Dia melintasi ruangan kecil itu, mencoba membuka
jendela. Tapi jendelanya tidak bisa dibuka, entah karena macet atau karena
digerendel dari luar.
"Mungkin
kita bisa memecahkan kacanya," aku mengusulkan.
"Jangan,
bunyinya pasti kedengaran," sahut Aunt Benna.
Aku
menggosok-gosok tengkukku. Bekas gigitan nyamuk-nyamuk semalam terasa gatal
sekali. Aku menyeka keringat di keningku.
Pintu pondok
membuka. Kareen muncul di ambang pintu. Dia membawa dua botol air. Satu
dilemparkannya padaku, satu lagi pada Aunt Benna. Kemudian dia langsung
berbalik, membanting pintu, dan menguncinya dari luar.
Kutempelkan
botol itu ke mulut, kureguk isinya sampai habis tanpa berhenti untuk menarik
napas. Air yang tinggal sedikit itu lalu kutuangkan ke kepalaku. Setelah
botolnya benar-benar kosong, aku membuangnya ke lantai.
"Apa
yang harus kita lakukan?" aku bertanya pada bibiku yang sedang duduk di
kursi lipat. Dia segera menempelkan telunjuknya ke bibir. "Sst."
Sebuah mesin
mulai berdengung-dengung di luar. Aku juga mendengar bunyi air menyembur dari
selang.
Aku bergegas
ke jendela dan memandang ke luar. Tapi jendelanya menghadap ke arah lain. Aku
tidak bisa melihat apa-apa.
"Kita
masih beruntung," Aunt Benna bergumam. Aku mengerutkan kening karena
heran. "Beruntung?"
"Ya,
kita beruntung," dia mengulangi. Hawlings tidak mengambil kepala
terpenggal yang kaubawa. Semalam terlalu gelap, jadi dia tidak
melihatnya."
Kukeluarkan
kepala itu dari kantong. Rambutnya yang hitam tampak acak-acakan. Aku berusaha
merapikannya.
"Simpan
lagi, Mark," bibiku berkata dengan tajam. "Jangan sampai Hawlings
melihatnya. Dia tidak tahu bahwa kepala itulah kunci Jungle Magic."
"Oya?"
aku bertanya sambil mengembalikan jimatku ke kantong T-shirt.
Aunt Benna
mengangguk. "Ya, kepala itu dan mantranya. Kata yang kuberikan padamu
waktu kau kuhipnotis. Saat itu kau berumur empat tahun."
Rambut jimatku
tergerai keluar dari kantong. Aku memasukkannya lagi.
Bunyi mesin
di luar bertambah nyaring. Deru semburan air pun semakin keras.
"Kita
terancam bahaya besar," kata Aunt Benna. "Kau harus menggunakan
Jungle Magic untuk menyelamatkan kita, Mark."
Aku
merinding. Tapi dengan sikap diberani-beranikan aku berkata, "Beres."
"Tunggu
sampai aku memberi aba-aba," Aunt Benna memberi petunjuk. "Kalau
kukedipkan mata tiga kali berturut-turut, keluarkan kepala itu dan serukan
mantranya. Perhatikan aku terus. Tunggu aba-aba darikuoke?"
Sebelum aku
sempat menyahut, pintu pondok sudah membuka lagi. Dr. Hawlings dan Carolyn
bergegas masuk. Roman muka mereka tampak kencang.
Dr. Hawlings
membawa pistol besar berwarna perak. "Keluar", dia memberi perintah
sambil melambaikan pistolnya ke arah bibiku dan aku.
Carolyn
menggiring kami menyusuri deretan pondok.
Kemudian dia
menyuruh kami berhenti di belakang gedung utama.
Kareen
bersandar di dinding. Dia mengenakan topi jerami bertepi lebar yang menutupi
matanya.
Matahari
bersinar terik. Tengkukku gatal dan serasa ditusuk-tusuk.
Aku merapat
ke bibiku sambil memicingkan mata karena silau.
Aku melihat
tumpukan kepala terpenggal di sebelah kananku.
Rasanya
semua mata memandang ke arahku.
Aku
mengalihkan pandanganku dari pemandangan yang menyeramkan itu dan melihat
sesuatu yang bahkan lebih mengerikan lagi.
Di belakang
gedung utama ada kuali hitam yang besar sekali.
Kuali itu
penuh berisi air mendidih yang bergolak. Di bawahnya ada api yang membara.
Aku
berpaling kepada bibiku. Dia tampak ketakutan. "Kalian tidak bisa berbuat
begini" dia berteriak kepada Dr. Hawlings. "Jangan sangka kalian bisa
lolos"
"Aku
tidak mau mencelakakanmu, Benna," Dr. Hawlings menyahut dengan tenang,
tanpa emosi sama sekali. "Aku cuma menginginkan Jungle Magic."
Pandanganku
terpaku di wajah bibiku. Dengan tegang aku menunggu aba-abanya. Menunggu tiga
kedipan mata yang menyuruhku beraksi.
"Berikan
rahasia Jungle Magic padaku," Dr. Hawlings mendesak.
Carolyn
menghampirinya sambil bertolak pinggang. "Katakan apa rahasianya, Benna.
Kami tidak ingin menggunakan kekerasan.
Sungguh."
"Tidak"
seru bibiku dengan ketus. "Tidak Tidak Tidak Aku takkan pernah memberikan
rahasia Jungle Magic pada kalian Takkan pernah"
Carolyn
menghela napas. "Ayolah, Benna. Urusan ini kan bisa diselesaikan secara
baik-baik. Kenapa harus dipersulit?"
Bibiku
membalas tatapannya. "Jangan harap," dia bergumam.
Aunt Benna
berkedip.
Aku menelan
ludah, dan menunggu dua kedipan berikutnya.
Ternyata
Aunt Benna tidak berkedip lagi. Rupanya belum waktunya.
Dr. Hawlings
maju selangkah. "Ayolah, Benna. Ini kesempatan terakhir untukmu. Katakan
apa rahasianyacepat"
Bibiku
menggeleng.
"Berarti
aku tidak punya pilihan," Dr. Hawlings berkata sambil menggelengkan
kepalanya. "Di dunia ini hanya kalian yang mengetahui rahasianya, dan
karena itu kalian terlalu berbahaya.
Rahasianya
akan mati bersama kalian."
"K-kami
mau diapakan?" aku melengking ketakutan.
"Kepala
kalian akan kukerutkan," jawab Dr. Hawlings.
Bagi anda yang berminat dengan permainan kartu online
berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di poker online indonesia online dan daftar
menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan
bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap
melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar