Horor Di Camp Jellyjam | Goosebumps #33 | Chapter 26

Chapter 26


SUARA monster itu kembali menggelegar.


Dierdre mengendurkan genggamannya. Sambil gemetaran karena ngeri, kami berdua berpaling ke arah King Jellyjam.

Ternyata ia meraung sekadar untuk membuat semua orang ketakutan.

Matanya yang kuning dan berair terpejam rapat. Ia belum melihat Dierdre dan aku.

"Cari bantuan!" Dierdre berbisik padaku. Kemudian ia mengangkat sponsnya dan berlari ke sisi King Jellyjam.

Sejenak aku berdiri seperti patung. Aku sampai tidak bisa bergerak saking ngerinya.

Raungan monster itu membuatku lari terbirit-birit menyusuri terowongan. Paling tidak, sekarang aku sudah tahu kenapa tanah di camp begitu sering terguncang-guncang!

Bau memuakkan dari ruang bawah tanah itu terus mengikutiku ketika aku menaiki tangga batu yang berputar-putar. Aku takut bau itu akan terus melekat pada diriku. Jangan-jangan aku takkan pernah bisa bernapas bebas lagi.

Bagaimana aku bisa menolong anak-anak itu? tanyaku dalam hati.

Apa yang bisa kulakukan?

Aku terlalu takut untuk berpikir dengan tenang.

Ketika aku berlari menerobos kegelapan, aku membayangkan King Jellyjam berkecap-kecap dengan bibirnya yang ungu. Aku membayangkan bagaimana ia memutar-mutar matanya yang kuning.

Sementara keong-keong hitam terus bermunculan dari kulitnya.

Perutku terasa mual ketika aku sampai di puncak tangga. Tapi aku tahu aku tidak punya waktu untuk memikirkan diriku. Anak-anak yang dipaksa menjadi budak monster itu harus kuselamatkan. Begitu juga anak-anak lain di camp sebelum mereka pun ikut jadi korban.

Aku menyembulkan kepala lewat pintu lemari. Keempat obor di bagian depan ruang pertemuan masih menyala. Tapi ruangannya sudah kosong.

Ke mana para pembina itu? Apakah mereka sedang mencari-cari aku di luar?

Kemungkinan besar sih begitu.

Apa yang harus kulakukan sekarang? aku bertanya dalam hati. Aku tidak mungkin bermalam di dalam lemari ini. Aku harus menghirup udara segar. Aku harus mencari tempat di mana aku bisa berpikir dengan tenang.

Dengan hati-hati aku meninggalkan igloo itu. Melangkah ke malam yang tak berbintang. Sambil bersembunyi di balik pohon besar, aku mengamati keadaan sekeliling.

Berkas-berkas sinar berwarna putih berkerlap-kerlip di balik pepohonan. Cahaya senter.

Ya, pikirku. Para pembina sedang mencariku.

Aku mundur, menjauhi berkas-berkas sinar yang saling bersilangan.

Sambil berusaha untuk tidak bersuara, aku menyelinap di antara pohon-pohon dan ilalang, menuju ke jalan setapak yang akan membawaku ke gedung utama.

Barangkali aku bisa kembali ke asrama dan memperingatkan semua anak. Tapi apakah mereka akan percaya? Dan bagaimana kalau ada pembina yang berjaga-jaga di situ? Bagaimana kalau mereka sengaja menunggu aku muncul?

Aku mendengar suara-suara di jalan setapak. Cepat-cepat aku bersembunyi di balik pohon dan membiarkan dua pembina lewat.

Cahaya senter di tangan mereka menyapu seluruh lereng bukit.

Begitu mereka tidak kelihatan, aku keluar dari persembunyianku. Aku berlari menuruni bukit. Sambil berlindung di kegelapan bayang-bayang, aku bergegas melewati kolam renang. Melewati deretan lapangan tenis. Semuanya gelap dan sunyi.

Semak-semak tinggi di sisi lapangan atletik akan melindungiku dari segala arah, pikirku. Cepat-cepat aku menyelinap. Napasku terengah-engah. Aku segera berlutut dan merangkak ke tempat persembunyianku yang baru.

Aku menduduki lapisan daun cemara di bawah semak-semak. Dan memandang berkeliling. Tak ada apa-apa selain kegelapan yang pekat.

Aku menarik napas panjang. Satu kali. Dua kali. Udaranya begitu segar.

Aku harus berpikir, aku berkata dalam hati. Harus berpikir...

***

Aku terbangun karena suara-suara yang berseru-seru.

Rupanya aku sempat ketiduran. Wah, di mana aku?

Aku berkedip beberapa kali. Lalu duduk tegak sambil meregangkan otot-otot. Seluruh tubuhku terasa kaku. Punggungku pegal sekali.

Aku memandang berkeliling. Ternyata aku masih di tempat persembunyianku di tengah semak-semak. Hari sudah terang, tapi langit masih mendung dan kelabu. Matahari masih berusaha menembus lapisan awan dengan sinarnya.

Dan suara-suara yang kudengar?

Siapa itu yang bersorak-sorai?

Aku berdiri dan mengintip dari balik semak-semak.

Pertandingan atletik! Pertandingannya baru saja dimulai. Aku melihat enam anak cowok dengan celana pendek dan t-shirt, berlari sekuat tenaga mengelilingi lapangan. Segerombolan anak dan pembina berseru-seru menyemangati mereka.

Dan siapa yang berada paling depan?

Elliot!

"Aduh!" seruku. Suaraku masih parau karena aku baru bangun.

Aku keluar dari semak-semak. Melintasi rumput, menuju lapangan.

Aku tahu aku harus menghentikan Elliot. Ia tidak boleh memenangkan pertandingan ini. Jangan sampai ia mendapatkan kepingnya yang keenam. Kalau ia sampai menang, maka ia juga bakal dijadikan budak!

Elliot berlari dengan kencang. Ia berada jauh di depan kelima pelari lainnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa?

Tiba-tiba aku teringat isyaratku.

Suitanku dengan dua jari. Isyaratku agar Elliot jangan terlalu menggebu-gebu.

Ia akan mendengarnya dan mengurangi kecepatan, kataku dalam hati.

Kutempelkan dua jari ke bibir.

Kemudian aku meniup keras-keras.

Tapi tak ada suara apa pun. Mulutku terlalu kering.
Jantungku berdegup-degup. Aku mencoba sekali lagi.

Tetap saja tidak berhasil.

Elliot memasuki putaran terakhir. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kemenangannya.



Bagi anda yang berminat dengan permainan poker online berbayar yang dapat dipercaya, silahkan klik link situs kami di agen judi poker online terpercaya dan daftar menjadi member kami sekarang juga, maka anda akan mendapatkan fasilitas dan bonus. Layanan kami ini di dukung dengan fasilitas chat yang selalu siap melayani dan menemani anda selama 24 jam penuh.
Posting Komentar
close
agen ceme online